Pengikut

Sabtu, 02 Maret 2024

Mewujudkan Pemilukada yang bersih dan demokrasitis melahirkan pemimpin yang jujur dan adil.

Mewujudkan Pemilukada yang Bersih serta Melahirkan Pemimpin yang Jujur dan Adil

Minggu, 03 Maret 2024 02:01 WIB

MENURUT - Undang-undang Nomor 10 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur Bupati dan Walikota Menjadi Undang-undang. Selanjutnya Pemilukada adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat untuk memilih Kepala Daerah Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati dan/atau Wali Kota dan Wakil Walikota, yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pilkada adalah sarana bagi rakyat untuk memilih, menyatakan pendapat melalui suara berpartisipasi sebagai bagian penting dari negara sehingga turut serta dalam menentukan haluan negara. Negara Indonesia menjunjung tinggi hak-hak warga negara Indonesia. Berdasarkan hak-hak tersebut nasib daerah dan bangsa ditentukan, salah satunya adalah dengan berpartisipasi aktif menggunakan hak suara. Dalam PKPU tertulis prinsip dalam Pemilu adalah mandiri, jujur, adil, kepastian, hukum, tertib, terbuka,professional, akuntabel, efektif dan efisiensi.

Pada saat memasuki masa-masa Pilkada, para elite politik berlomba untuk mendapatkan simpati masyarakat dengan cara apapun, salah satunya dengan politik uang. Politik uang memiliki potensi yang bisa merugikan kemajuan daerah, karena ada kecenderungan jika sudah berhasil memenangkan suara akan ada upaya untuk mengembalikan modal yang dikeluarkan sebelumnya. Hal ini dapat menjurus pada tindakan korupsi. Politik uang sangat merugikan bagi kemajuan kedaerahan dalam sistem demokrasi di Indonesia.

Untuk menciptakan Pemilukada yang bersih sangat dibutuhkan pemahaman masyarakat akan bahaya politik uang itu, dimana masyarakat memiliki peran penting dalam menentukan masa depan daerahnya. Akan tetapi, masyarakat juga tidak boleh golput. Sebab, hal itu hanya akan menguntungkan bagi calon yang tidak kredible. Karena biasanya, perilaku golput dilakukan orang yang kritis yang memandang tidak ada calon yang kredibel. Padahal golput akan memberikan peluang orang yang kurang kompeten untuk memenangkan pertandingan. Gerakan golput sama bahayanya dengan politik uang. Karena itu, jangan golput dan tolak politik uang.

Sebagai masyarakat yang cerdas kita harus mampu menilai calon yang terbaik yang sekiranya mampu dan mau mendengarkan aspirasi masyarakat agar pembangunan yang akan dilakukan sesuai dengan keinginan masyarakat dan tidak memilih calon yang hanya mementingkan diri atau kelompoknya saja sehingga melupakan janji-janji yang sudah diucapkan dalam masa kampanye. Sebagai pemilik hak pemilih dalam pemilu kita jangan sampai menyia-nyiakan hak suara hanya untuk iming-iming sementara yang dalam artian kita harus memberikan suara kita kepada calon yang tepat. Karena pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya.

Menurut pandangan saya upaya Pemilukada jujur dan adil dapat dicapai apabila tersedia perangkat hukum yang mengatur proses pelaksanaan Pemilukada, yang menjamin perlindungan terhadap para penyelenggara, kandidat, pemilih, pemantau, dan warga negara pada umumnya dari ketakutan, intimidasi, kekerasan, penyuapan, penipuan, dan berbagai praktik curang lainnya yang akan mempengaruhi hasil Pemilukada itu sendiri.

Oleh karena itu, Pemilukada yang jujur dan adil membutuhkan peraturan perundang-undangan pemilu dan lembaga serta aparat yang bertugas menegakkan peraturan perundang-undangan pemilu tersebut.

Penulis merupakan alumni Magister Manajemen Universitas Cenderawasih dan Demisioner KPU Supiori Kordiv Perencanaan Data dan Informasi serta Wakil Kordiv Teknis Penyelenggara Pemilu 

Disclaimer: Artikel dan isi tanggung jawab penulis

Senin, 08 Agustus 2022

MENGGALI DAN MERENUNG PESAN Pdt. I.S. KIJNE BAGI KEHIDUPAN DIATAS TANAH PAPUA

Menggali dan merenung Pesan Pdt. I.S. Kijne Bagi Kehidupan hari ini di Tanah atas Papua

Catatan singkat yang sederhana ini dirasa akan sedikit bermanfaat bagi generasi hari ini di atas tanah Papua untuk menata paradigma sosial dimasa yang akan datang. Alasan mendasar dapat terlihat bahwa sebagian anak Papua masa kini sudah tidak lagi menjaga konsistensi sebuah nilai budaya dan menjaga warisan dalam keberagaman hidup dan perspektif dinamika sosial yang sesungguhnya. Hal ini pun bertentangan dengan sebuah nilai yang luhur dan memiliki makna yang sungguh bagi tanah Papua dan bagi masa depan generasi yang akan datang, sehingga perlu kita mengingat kembali pesan dan kesan yang ditinggal oleh para Zendelin diatas tanah Papua, salah satu Zendelin tanah Papua yakni Pdt. Izaac Samuel Kijne dengan dua pesan hidup yang secara khusus dititipkan bagi orang Papua dan kini telah tersirat dalam kehidupan hari ini. 
Pendeta Izaac Samuel Kijne adalah hamba Tuhan berkebangsaan Jerman yang ditugaskan di Wondama sajak tahun 1925. Ia dipindahkan dari Pulau Mansinam tempat Injil pertama masuk (1855). Mulai saat itulah Wasior dikenal luas karena ia mendirikan Gereja dan Sekolah Zending. Di gereja dan sekolah itulah anak-anak dan orang dewasa Asli Papua mulai diajarkan tentang Injil dan etika hidup sebagai Orang Kristen yang baik dan benar. 

Salah satu karyanya yang paling dikenal hingga saat ini di Wondama adalah Batu Peradaban. Di atas batu itulah bertuliskan isi dari awal Peradaban Bangsa Papua. 
“Di atas batu ini, saya meletakkan Peradaban Orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri” (Wasior, 25 Oktober 1925).

Isi Pesan dari Pdt. Izaac Samuel Kijne yang dijuluki sebagai Bapak Peradaban Orang Papua memiliki makna khusus bahwa suatu saat nanti Orang Papua akan berdiri sebagai pemimpin di atas tanah leluhurnya sendiri, meskipun banyak orang dari berbagai daerah akan datang dan terus berdatangan ke Tanah Papua untuk hidup berdampingan dengan orang-orang Papua dan membangun tanah Papua dengan perspektif bahkan konsep yang berbeda. 

Konon menurut kepercayaan masyarakat setempat, jika ada orang yang naik ke atas batu dan melihat alam indah di Wondama, maka saat itu pula akan muncul berbagai inspirasi untuk melakukan perubahan baru. Keyakinan mereka tersebut kini sudah nampak dalam keseharian hidup Orang Papua. Keyakinan masyarakat setempat saat itu, mulai menjadi sebuah kenyataan dalam keseharian hidup Orang Papua saat ini namun masih banyak bagian yang harus direnungkan kembali sekaligus dapat dijadikan bahan evaluasi bagi setiap anak Papua. 

Kini banyak peristiwa yang sudah dan sedang terjadi sesuai dengan isi dari tulisan yang ada pada batu peradaban tersebut. Terlebih khusus, sangat nampak dalam hal sistem kepemimpinan dalam berbagai aspek pembangunan saat ini di Tanah Papua. Entah itu dalam Bidang Birokrasi Pemerintahan, Pendidikan, Keagamaan, Kesehatan, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Hukum dan HAM dan lain sebagainya.

Hal tersebut sudah mulai nampak dan terbukti sejak jaman sebelum adanya Status Daerah Otonomi Khusus (OTSUS) bagi Provinsi Papua. Berbagai instansi sudah pernah dipimpin oleh Orang Asli Papua sendiri. Baik itu instansi pemerintahan maupun swasta.

Salah satu contoh konkrit adalah sejak Integrasi Irian Barat (Papua) ke dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Tanggal 01 Mei 1963, Alm. Elias Jan Bonai langsung dipilih menjadi Gubernur Irian Barat pertama. Ia adalah salah satu Putra Asli Papua. Masa jabatannya berakhir tepatnya pada tanggal 20 November 1964. Hal ini membuktikan bahwa Orang Papua juga sudah sejak lama bisa memimpin dirinya sendiri. Bagian ini pun menjadi dasar bahwa orang Papua harus lebih giat membangun diri dalam menata masa depan Tanah Papua yang lebih baik. Apalagi sekarang dengan adanya Undang-Undang Otsus (UU-Otsus). Hak-hak Orang Asli Papua terakamodir. Meskipun, faktanya tak semua terlaksana dengan baik dan benar namun hal ini perlu disambut dengan bijaksana sebagaimana pesan Pdt. Izaac Samuel Kijne yang telah diuraikan sebelumnya.

Salah satu contohnya kini semua pimpinan di jajaran birokrasi dimulai dari tingkat distrik hingga gubernur diduduki oleh Orang Asli Papua. Tidak hanya itu, kini banyak juga yang sudah dan sedang menjabat sebagai pimpinan dalam berbagai bidang di luar Papua, bahkan ada juga berkarir di tingkat internasional. Sederetan jabatan yang pernah dan sedang diembangi oleh Anak Asli Papua di luar Papua dan manca negara antara lain seperti Anggota Dewan Perwakilan Daerah dan Rakyat Republik Indonesia (DPD dan DPR. RI), Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR. RI) Menteri hingga Duta Besar Luar Biasa (Ambassador). Hal-hal ini membuktikan bahwa pernyataan tertulis dari Pdt. Kijne kini telah dan sedang menjadi nyata satu demi satu. Namun, kembali kepada setiap pribadi pejabat apakah mereka akan bertahan bahkan menjadi lebih baik ataupun menjadi terpuruk dalam konsep yang berbeda. 

Mengingat kemungkinan loyalitas dari kepemimpinan itu, kembali Tokoh Pendidikan Orang Papua itu pernah menitipkan catatan penting buat kehidupan di Tanah Papua. Catatannya tersebut tidak hanya untuk Anak Negeri Papua. Akan tetapi dialamatkan untuk semua orang. Entah itu Papua maupun Non-Papua yang hendak akan berkarya di atas Tanah Papua.

“Barang Siapa yang bekerja di Tanah ini dengan setia, jujur dan dengar-dengaran, maka ia akan berjalan dari tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain.” (Pdt. I.S. Kijne, 1947.)

Dari pesan religius di atas, dapat dipahami bahwa ia memuat tentang sederetan hikmah dan pahala yang akan dialami oleh siapa saja yang akan berkarya di Tanah Papua. Entah itu, ia pendatang maupun Orang Asli Papua yang akan hidup dan berkarya di Tanah Papua. Sehingga, apapun jenis tanda heran yang akan dialami sangat bergantung pada karyanya. Barang siapa yang akan bekerja dengan setia, jujur dan dengar-dengaran, maka ia akan menyaksikan dan mengalami mujizat-mujizat ilahi dari Sang Khalik. Hal tersebut tentu akan dialami oleh mereka diluar dugaan manusia biasa. Sebagaimana sesuai dengan hukum tabur dan tuai. Prinsipnya, apa saja yang ditanam, hal itu pula yang akan dipanen oleh mereka.

Ada berbagai bentuk tanda heran yang bisa dialami oleh siapa saja yang kerja dengan sepenuh hati. Baik itu secara langsung, maupun secara tidak langsung. Contoh nyata tanda heran yang mereka bisa peroleh adalah seperti umur yang panjang, keturunan, promosi jabatan dan lain sebagainya. Sementara mereka yang tidak melaksanakan amal dan karyanya sesuai dengan catatan di atas, maka mereka justru akan menyaksikan dan mengalami tanda-tanda heran yang buruk. Tentunya, teguran ataupun kutukannya bisa dalam berbagai bentuk. Misalnya, umur jadi pendek, tidak memiliki keturunan, mengalami kesulitan dalam kenaikan pangkat ataupun promosi jabatan dan lain sebagainya.

Dengan demikian, sangatlah jelas bahwa setidaknya ada dua pesan dan harapan ilahi dari Pdt. I.S.Kijne bagi kehidupan di Tanah Papua. Pesan pertama lebih bersifat khusus dan memuat tentang keyakinan dan harapan hidup dari Orang Asli Papua (OAP) di atas tanah leluhurnya sendiri. Sedangkan, pesan kedua lebih bersifat universal dan memuat tentang anjuran dan konsekuensi dari gaya hidup dari siapa saja yang akan berkarya di Tanah Papua tanpa terkecuali.

Akhirnya, penulis berharap tulisan sederhana ini dapat mengingatkan kita untuk kembali merenung dasar peradaban hidup orang Papua. Namun, bagi yang kebetulan tidak tahu supaya ia dapat menambah wawasan dan pengetahuan akan hidup dan kehidupan di Tanah Papua. Terlebih khusus dari aspek pembangunan bangsa dan kemajuan hidup bagi Orang Papua (OAP dan Non OAP). 

Semoga bermanfaat!
Salam Perubahan!
Selamat memperingati hari Adat Sedunia!

Penulis merupakan Alumni Pada Program Magister Manajemen, Universitas Cenderawasih Angkatan XXIV Tahun 2015. 


Jumat, 25 Maret 2022

NILAI-NILAI KARAKTER YANG MEMBANGUN PERADABAN MANUSIA

                        Disusun Oleh : 
              Piethein Wakum,S.IP.,M.M
                           ABSTRAK
Budaya-budaya asing cenderung membuka ruang pada asimilasi dan kultur budaya dunia terutama kedalam sendi kehidupan anggota keluarga. Situasi dan kondisi sosiologis menunjukkan terjadinya pergeseran nilai yang terjadi hampir disetiap bidang dan sendi kehidupan manusia, terutama bidang pendidikan. Pendidikan karakter menjadi sangat penting sebagai upaya pembangunan karakter bangsa terutama keluarga. Pendidikan karakter yang dimaksud adalah pendidikan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai budaya luhur orang tua atau moyang pendahulu.

Berawal dari nilai-nilai yang diciptakan manusia berupa nilai beragama, nilai ekonomi, nilai politik, nilai praktik, nilai subjektif, nilai estetika, nilai sosial, nilai seni, nilai ilmu pengetahuan, serta nilai dasar. Kemudian Nilai-nilai yang membangun karakter manusia berupa nilai filosofis, nilai budaya, nilai agama, nilai tujuan. Lalu Nilai-nilai budaya yang berpengaruh terhadap peradaban diantaranya kombinasi konsep nilai individu dan masyarakat, dan kombinasi konsep nilai spiritual dan material. Sementara Nilai-nilai menurut agam yang membangun peradaban adalah nilai akhlak. Maka pendidikan sebagai lembaga sosial yang berfungsi dalam pembentukan karakter manusia yang berbudaya dan melakukan proses pembudayaan nilai-nilai, perlu adanya upaya peningkatan kualitas hidup manusia, pendidikan dan kebudayaan. Antara pendidikan dan kebudayaan dapat menjadi dua komponen yang mendeterminasi satu sama lain. Hubungan ketergantungan di antara keduanya mengandung pengertian bahwa kualitas pendidikan akan menunjukkan kualitas budaya. Demikian juga selanjutnya, kualitas kebudayaan akan menunjukkan kualitas manusia yang berperadaban. Dengan demikian pendidikan karakter yang berbudaya yang mampu menciptakan peradaban yang beradab tercermin dari nilai-nilai yang dianut oleh bangsanya sendiri.

Kata Kunci : 
Nilai yang diciptakan, 
Nilai karakter, 
Nilai budaya dan 
Nilai kekeluargaan

A. PENDAHULUAN
Pendidikan karakter saat ini menjadi urgen untuk diperhatikan. Istilah pendidikan karakter yang dicetuskan oleh para tokoh pendidikan yang concern pada pendidikan yang telah membuka pemikiran baru tentang pendidikan yang unggul kemudian menguat ketika para intelektual hari ini yang menekankan pentingnnya pendidikan karakter sebagai upaya pembangunan karakter bangsa. Konteksnya adalah pendidikan karakter nasional. Masyarakat yang memiliki karakter kebangsaan yang kuat harus memiliki kekuatan untuk menyaring budaya-budaya asing yang cenderung membuka ruang pada asimilasi dan kultur budaya dunia. Agar terbangun sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter, maka semua potensi perlu dikelola dengan sistem pendidikan yang baik. Pendidikan saat ini sebagai tempat tumbuhnya pribadi-pribadi dalam masyarakat yang terombang-ambing oleh derasnya situasi yang sangat tidak menguntungkan bagi kestabilan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Tidak hanya efek industrialisasi yang mencobak-cabik pendidikan, gelombang informasi yang semestinya memberi harapan lebih baik malah telah menimbulkan masalah baru yang lebih kompleks. Hal ini akan mengkristal pada budaya yang mampu melahirkan peradaban yang tidak berkemanusiaan. Ini akan menjadi krisis pendidikan yang dialami maka problematika pendidikan di masa kini akan menjadi urgen bagi pendidikan di masa depan. Situasi dan kondisi sosiologis yang terjadi di masyarakat dewasa ini menunjukkan terjadinya pergeseran nilai pada hampir setiap bidang dan sendi kehidupan manusia, terutama bidang pendidikan. Kondisi semacam ini tampak pada fenomena di lembaga pendidikan formal dan nonformal yang selalu menyajikan nilai-nilai kebaikan, nilai-nilai kesusilaan, dan sebagainya, akan tetapi dalam kehidupan riilnya, mereka banyak menjumpai hal-hal yang sering bertentangan dengan nilai-nilai tersebut. Proses distorsi nilai seperti ini terjadi dalam pendidikan, tidak terkecuali lembaga pendidikan Kristen.

Pendidikan sebagai lembaga sosial yang berfungsi dalam pembentukan karakter manusia yang berbudaya dan melakukan proses pembudayaan nilai-nilai, maka dalam upaya peningkatan kualitas hidup manusia, pendidikan dan kebudayaan dapat menjadi dua komponen yang mendeterminasi satu sama lain. Di satu sisi, pengembangan dan kelestarian kebudayaan berlangsung dalam proses pendidikan dan memerlukan pengelolaan pendidikan. Sementara itu, dalam mengembangkan pendidikan membutuhkan suatu sistem kebudayaan yang dapat mendukung berlangsungnya pendidikan. Sehingga pendidikan membutuhkan stabilitas budaya yang mapan. Sebaliknya, pengembangan kebudayaan membutuhkan kebebasan kreatif dari suatu sistem pendidikan. Hubungan ketergantungan di antara keduanya mengandung pengertian bahwa kualitas pendidikan akan menunjukkan kualitas budaya. Demikian juga kualitas Pendidikan karakter yang dimaksud adalah pendidikan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai budaya luhur moyang pendahulu dalam berkeluarga, berbangsa dan negara. Dalam hal ini kebudayaan akan menunjukkan kualitas manusia yang berperadaban. Masalahnya adalah nilai-nilai apa yang diciptakan oleh manusia, nilai-nilai apa saja yang dapat membangun karakter manusia, nilai berkarakter mana yang dapat membangun budaya manusia, dan nilai-nilai budaya apa yang mampu berpengaruh terhadap  peradaban manusia didalam keluarga?.

B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Nilai
Berbicara masalah nilai merupakan sesuatu yang menarik bagi kita, sesuatu yang dicari, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang disukai dan diinginkan, singkatnya sesuatu yang baik. Para pakar mengatakan bahwa nilai adalah the addressee of a yes (sesuatu yang ditunjukan dengan ya). Dalam kamus popular, nilai diartikan sebagai ide tentang apa yang baik, benar, bijaksana dan apa yang berguna, sifatnya lebih abstrak dari norma. Ditinjau dari sudut pandang tema filosofis tentang hakikat subjektif, nilai merupakan reaksi yang diberikan oleh manusia sebagai pelaku. Pengikut teori idealisme subjektif seperti positivisme logis, emotivisme, analisis linguistik dalam etika, menganggap nilai sebagai sebuah fenomena kesadaran dan memandang nilai sebagai pengungkapan perasaan pada nilai-nilai karakter yang Membangun Peradaban Manusia terutama dalam kekeluargaan.

Psikologis yaitu sikap subjektif manusia kepada objek yang dinilainya. Berbeda halnya dengan kaum rasionalis mengatakan bahwa nilai merupakan esensi-esensi logis dan dapat diketahui melalui akal. Sedangkan kaum empiris memandang nilai sebagai unsur-unsur objektif yang menyusun kenyataan. Dalam buku Kamus Filsafat menjelaskan bahwa nilai dalam bahasa Inggris disebut value, bahasa Latin valere artinya berguna, mampu akan sesuatu, berdaya, berlaku, kuat. Ditinjau dari segi harkat, nilai adalah kualitas suatu hal yang menjadikan hal itu dapat disukai, diinginkan, berguna, atau dapat menjadi objek terpenting. Ditinjau dari segi keistimewaan, nilai adalah apa yang dihargai, dinilai tinggi atau dihargai sebagai sesuatu kebaikan. Lawan dari suatu nilai positif adalah “tidak bernilai” atau “nilai negatif”. Baik akan menjadi suatu nilai dan lawannya (jelek, buruk) akan menjadi suatu “nilai negatif” atau “tidak bernilai”. Ditinjau dari sudut Ilmu ekonomi memiliki arti kegunaan nilai tukar benda-benda material. Secara historis, istilah yang lebih umum dipakai dalam nilai adalah etika (ethics) atau moral (morals). Secara filosofis dikenal dengan istilah axios (nilai) dan logos (teori) atau aksiologi yaitu the theory of value atau teori nilai tentang baik dan buruk (good and bad), benar dan salah (right and wrong), serta tentang cara dan tujuan (means and ends). Aksiologi mencoba merumuskan suatu teori yang konsisten untuk perilaku etis, yaitu sesuatu yang memungkinkan seseorang berbicara tentang moralitas, melalui kata-kata atau konsep-konsep “seharusnya” atau “sepatutnya” (ought/should). Maka aksiologi merupakan analisis tentang kepercayaan, keputusan, dan konsep-konsep moral dalam rangka menciptakan atau menemukan suatu teori nilai. Oleh karena itu, etika, moral dan akhlak selalu dikaitkan dengan nilai. Jika dihubungkan dengan istilah pendidikan karakter, maka ada beberapa ciri dasar nilai dalam pendidikan karakter antara lain: 
(1). Setiap tindakan diukur berdasarkan hierarki nilai, sehingga nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan, 
(2). Koherensi keberanian memperteguh prinsip, 
(3). Adanya otonomi internalisasi aturan kepada nilai-nilai pribadi individu, 
(4). Membangun keteguhan dan kesetian terhadap komitmen yang dipilih.

Adapun nilai-nilai yang perlu diajarkan dalam pendidikan karakter menurut Lickona (moral knowing), ada pada tiga komponen karakter yang baik antara lain: 
(1). pengetahuan tentang moral 
(2). Perasaan tentang moral (moral feeling),
(3). Perbuatan bermoral (moral action).

Cara yang digunakan untuk menjelaskan nilai adalah memperbandingkan dengan fakta. Berbicara tentang fakta yaitu berbicara sesuatu yang ada dan berlangsung begitu saja, dapat ditemui dalam teks deskripsi yang pada prinsipnya dapat diterima oleh semua orang. Berbicara tentang nilai yaitu berbicara tentang sesuatu yang berlaku, yang memikat peran dalam suasana apresiasi atau penilaian yang akibatnya sering akan dinilai secara berbeda oleh berbagai orang. Menurut Bertens, nilai setidaknya memiliki tiga kategori antara lain: 
(1). Nilai berkaitan dengan subyek, 
(2). Nilai dalam suatu konteks praktik, 
(3). Nilai menyangkut sifat-sifat yang ditambah oleh subyek pada sifat-sifat yang dimiliki oleh objek, 
(4). Nilai yang estetis meliputi indah, bagus  dan menarik, 
(5). Nilai dasar yaitu nilai yang merupakan syarat mewujudkan nilai lain seperti kesehatan, pendapatan, makanan, lingkungan dsb.

Dalam setiap masyarakat ada banyak nilai yang berlaku. Sprange menyebutkan ada enam nilai, antara lain: 
(1). Nilai ilmu pengetahuan, 
(2). Nilai ekonomi
(3). Nilai agama
(4). Nilai seni
(5). Nilai sosial
(6). Nilai politik

Nilai erat kaitannya dengan sikap. Nilai merupakan disposisi yang lebih luas dan sifatnya lebih mendasar, berakar lebih dalam sehingga lebih stabil dibandingkan sikap. Nilai juga dianggap sebagai bagian dari kepribadian individu yang dapat mewarnai kepribadian keluarga atau kepribadian bangsa. Dalam konteksnya yang relevan, nilai menjadi dasar pembentukan sikap manusia terhadap suatu isu atau permasalahan sehingga dengan nilai cenderung menghindari konflik. 

2. Nilai Kebudayaan dan Manusia
Jiwa pada individu manusia adalah roh subyektif yang menciptakan dan mendukung nilai-nilai. Nilai-nilai roh subyektif manusia kemudian diterima oleh umum (masyarakat luas) membentuk sistem nilai-nilai umum yang kemudian disebut nilai-nilai kebudayaan. Sistem nilai ini berfungsi sebagai pedoman dan norma hidup manusia baik sebagai individu atau kelompok misalnya dalam keluarga, organisasi, partai politik, masyarakat atau bangsa. Kebudayaan itu sendiri diartikan sebagai seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan, nilai-nilai Karakter yang Membangun Peradaban Manusia bermasyarakat, yang jadikan pribadinya dengan terus belajar.

Para teoritis memandang kebudayaan adalah sistem nilai-nilai atau kumpulan nilai-nilai yang disusun dan diatur menurut struktur tertentu. Dalam hal ini dapat digolongkan menjadi enam bidang nilai kebudayaan (lebensformen), antara lain :
(1) bidang pengetahuan-ilmu dan teori
(2) bidang ekonomi
(3) bidang kesenian
(4) bidang keagamaan
(5) bidang kemasyarakatan
(6) bidang politik. 
Empat bidang diatas diantaranya termasuk pada bidang nilai yang berhubungan dengan manusia sebagai individu, sedangkan dua bidang terakhir merupakan bidang nilai yang berhubungan dengan manusia sebagai anggota masyarakat. Dari ke-enam nilai kebudayaan di atas, realitasnya sering hanya salah satu saja yang dominan, dan nilai yang dominan inilah yang memberi corak atau bentuk kepribadian. Nilai kebudayaan yang dominan ini dipandang sebagai nilai yang tertinggi, yang paling berharga sehingga nilai-nilai lain diwarnai oleh nilai-nilai yang dominan yang melahirkan beberapa tipe watak manusia antara lain; 
(1) Watak manusia teori atau ilmu.
(2) Manusia ekonomi
(3) Manusia seni 
(4) Manusia agama
(5) Manusia sosial 
(6) Manusia kuasa atau politik

3.Manusia dan Peradaban 
Peradaban dalam Bahasa Inggris adalah Civilizationdiartikan sebagai : 
(1) group of people living and working together for the purpose of creating an organized society, 
(2) the highest cultural grouping of people which distinguishes humans from other species, 
(3) complex systems or network of cities that emerge from pre-urban culture. 

Antara manusia dan peradaban sangat erat hubungannya karena keduanya saling mendukung dalam menciptakan suatu kehidupan sesuai kodratnya. Peradaban timbul karena manusia yang menciptakannya. Masyarakat yang beradab diartikan sebagai masyarakat yang mempunyai sopan santun dan budi pekerti yang baik. Makna hakiki manusia beradab digambarkan dengan ketenangan, kenyamanan, ketentraman dan kedamaian, dengan kata lain kombinasi yang ideal antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum. Adab erat hubungannya dengan: 
(1) Moral yaitu nilai-nilai dalam masyarakat yang hubungannya dengan kesusilaan, 
(2)Norma yaitu aturan, ukuran atau pedoman yang dipergunakan dalam menentukan sesuatu yang baik atau salah.
(3) Etika yaitu nilai-nilai dan norma moral tentang apa yang baik dan buruk yang menjadi pegangan dalam mengatur tingkah laku manusia. 
(4) Estetika yaitu berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam keindahan, kesatuan, keselarasan dan kebalikan. 
Peradaban merupakan perkembangan kebudayaan yang telah mencapai tingkat tertentu yang diperoleh manusia dan pendukungnya yang mencakup seluruh kehidupan sosial, ekonomi, politik dan teknik. Sedangkan kebudayaan adalah sesuatu yang berasal dari hasrat dan gairah yang lebih murni diatas tujuan yang praktis hubungannya dengan masyarakat. Jadi Peradaban  merupakan tahapan tertentu dari kebudayaan masyarakat yang telah mencapai nilai -nilai positif dalam kehidupan sehari-hari yang telah maju sebagaimana dicirikan dalam tingkat ilmu pngetahuan, teknologi dan seni yang modern. Masyarakat tersebut dapat dikatakan telah mengalami proses perubahan sosial signifikan sehingga taraf kehidupannya makin kompleks. Manusia sebagai makhluk beradab dan masyarakat adab tentunya mempunyai tanggungjawab dalam melangsungkan hidupnya. Manusia yang bertanggungjawab adalah manusia yang bertindak baik menurut norma umum. Makna hakiki manusia beradab adalah manusia senantiasa menjunjung tinggi aturan-aturan, norma-norma, adat-istiadat, ugeran dan wejangan atau nilai-nilai kehidupan yang ada di masyarakat yang diwujudkan ketaatan pada berbagai pranata sosial atau aturan sosial, sehingga tercipta kehidupan di masyarakat yang tenang, nyaman, tentram dan damai. Konsep masyarakat adab adalah kombinasi yang ideal antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum. Hal ini sesuai dengan aspek rohani dan jasmani yang ada pada manusia. Sehingga kehidupan manusia selalu dibimbing oleh nilai-nilai spiritualisme dan materialisme. Maka sepatutnya menserasikan kedua pasangan nilai. Namun kenyataan manusia dalam memandang kedudukan dan peranan seseorang di masyarakat lebih banyak mempergunakan tolak ukur materi. Hal ini disebabkan karena tabiat manusia akan selalu mencari peluang kebebasan. 

Nilai-nilai Karakter yang Membangun Peradaban Manusia. Menurut Selo Sumardjan, perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan didalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosial, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap, dan pola perilaku dalam kehidupan kelompok atau masyarakat. Menurutnya antara perubahan sosial dan perubahan kebudayaan memiliki satu aspek yang sama, yaitu keduanya bersangkut paut dengan suatu penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan cara masyarakat memenuhi kebutuhannya. Pada kelanjutannya mengenai pasangan nilai tersebut mengalami pergeseran tekanan pada nilai-nilai tertentu. Pergeseran nilai tersebut adalah nilai-nilai materialisme yang dapat menimbulkan perubahan nilai yang berpengaruh terhadap masa depan. Perubahan nilai tersebut merambah pada perubahan sosial.

4. Peradaban dan  Problematikanya bagi Kehidupan Manusia 
Arus modernisasi dan globalisasi adalah sesuatu yang pasti terjadi dan sulit untuk dikendalikan, terutama karena begitu cepatnya informasi yang masuk. Hal yang mendasar dari modernisasi dan globalisasi adalah masalah nilai. Nilai yang mengglobal dianut sebagai nilai yang diyakininya benar. Jika nilai-nilai yang dianut berbenturan dan berkembang dalam masyarakat tanpa penyelesaian, maka diidentifikasikan timbul krisis nilai yang mengganggu keharmonisan kehidupan masyarakat. Hal ini dikarenakan sendi-sendi normatif dan tradisional mengalami pergeseran. Krisis nilai ini menyangkut sikap menilai suatu perbuatan baik-buruk, bermoral-amoral, sosial-asosial, pantas-tidak pantas, benar–tidak benar dan prilaku lainnya yang diukur atas dasar etika pribadi dan sosial. Sehingga merubah sikap-sikap penilaian mentolerir, permisif, apatis, tidak sopan dan sebagainya. Kondisi kebudayaan sosial tersebut pada gilirannya mengguncang jiwa manusia, terjadinya krisis kepercayaan pada kemampuan diri sendiri dan  menimbulkan gejala-gejala sensitif terhadap nilai-nilai yang negatif. Disamping itu sumber nafsu-nafsu manusia muncul kepermukaan, sehingga penalaran tidak lagi filosofis dan bijaksana bahkan banyak yang tidak sejalan dengan hati nurani manusia. Krisis nilai peradaban diatas menurut Arifin berpangkal pada perubahan pola pikir yang cenderung rasional daripada dogmatisme, realisme dan pragmatisme dari pada ritual-formalisme, sekuarisme dari pada moralisme-idealisme agama dan sebagainya. Pertarungan antara kebudayaann lokal dengan kebudayaan barat, dimana kebudayan barat berdasarkan pada rasionalisme dan kebudayaan lokal khususnya lebih kepada nilai-nilai filosofis bangsa. 

5. Nilai-nilai yang membangun Peradaban.
Kata “adab” (asal kata dari bahasa Arab) diartikan sebagai akhlak atau kesopanan dan kehalusan budi pekerti. Peradaban adalah tahapan tertentu dari kebudayaan masyarakat tertentu pula, yang telah mencapai kebudayaan tertentu pula, yang telah mencapai kemajuan tertentu yang dicirikan oleh tingkat ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang telah maju. Untuk menjadi makhluk yang beradab, manusia senantiasa harus menjunjung tinggi aturan-aturan, norma-norma, adat-istiadat, ugeran dan atau nilai-nilai kehidupan yang 
ada di masyarakat yang diwujudkan dalam ketaatan pada berbagai pranata sosial atau aturan sosial, sehingga dalam kehidupan di masyarakat itu akan tercipta ketenangan, kenyamanan, ketentraman dan kedamaian. Peradaban sebagai wujud kebudayaan yang bersifat non￾materiil, seperti adat sopan santun,
pergaulan dalam menjalani hidup dan kehidupan ini manusia senantiasa memegang teguh nilai-nilai yang ada, baik berupa moral, norma, etika, dan estetika. Dengan demikian, adab dan peradaban di masyarakat memiliki peran yang sangat sentral dalam kehidupan masyarakat dan sangat berpengaruh 
dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu wujud peradaban yang beradab adalah mempunyai: 
(1). Nilai-nilai dalam masyarakat dalam 
hubungannya dengan kesusilaan, 
(2).Norma : aturan, ukuran, atau pedoman yang dipergunakan dalam menentukan sesuatu benar atau salah, baik atau buruk, (3). Etika : nilai-nilai dan norma moral tentang apa yang baik dan buruk yang menjadi pegangan dalam megatur tingkah laku manusia. Bisa juga diartikan sebagai etiket, sopan santun, 
(4). Estetika : berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam keindahan, mencakup kesatuan (unity), keselarasan (balance), dan kebalikan (contrast).

Brubacher yang dikutip Muhaimin mengatakan bahwa nilai sangat erat dengan pengertian-pengertian dan aktivitas manusia yang kompleks, sehingga sulit ditentukan batasannya. Nilai adalah suatu penetapan atau suatu kualitas objek yang menyangkut suatu jenis apresiasi. Nilai itu praktis dan efektif dalam jiwa dan tindakan manusia yang melembaga secara objektif di masyarakat dan merupakan satu realitas yang sah sebagai suatu cita-cita yang benar dan bersifat hayati, ideal, abstrak dan tidak dapat disentuh oleh panca indra. Nilai-nilai Karakter yang Membangun Peradaban Manusia bersifat subjektif dan tidak mungkin diuji, ukurannya terletak pada diri orang yang menilai, namun konfigurasinya dapat berwujud kebenaran berdasarkan nilai logika atau kegunaan secara pragmatis. Sumber nilai yang berlaku dalam pranata kehidupan manusia menurut Muhaimin digolongkan ke dalam dua macam, antara lain: 
(1). Nilai ilahi yang terbentuk dari taqwa, iman, adil yang diabadikan dalam wahyu Ilahi, nilai ini selamanya tidak mengalami perubahan, 
(2) Nilai insani yang tumbuh atas kesepakatan manusia serta hidup dan berkembang dari peradaban manusia, sifatnya dinamis, keberakuan dan kebenarannya relative (nisbi) yang dibatasi oleh ruang dan waktu, fungsi interpretasinya lebih memperoleh konsep nilai atau lebih memperkaya isi konsep atau untuk memodifikassikan bahkan  mengganti dengan konsep baru. Nilai-nilai insani yang melembaga pada suatu tradisi yang diwariskan dan mengikat anggota masyarakat memiliki kecenderungan mempertahankan dari kemungkinan perubahan tata nilai sehingga sering menjadi hambatan perkembangan peradaban dan kemajuan manusia. Hal ini memungkinkan adanya kontradiksi antara kepercayaan sebagai sumber tata nilai yang membangun peradaban dengan nilai-nilai tradisi yang baku dan mengikat sehingga merugikan peradaban. 

Fenomena di atas pada perkembangannya, peradaban mengarah pada sikap meninggalkan bentuk kepercayaan dan tata nilai tradisional dan menganut kepercayaan dan nilai-nilai yang dianggap suatu kebenaran. Sikap religious khususnya Nasrani dalam menghadapi tata nilai masyarakat dapat menggunakan lima klasifikasi antara lain: 
(1). Memelihara unsur-unsur nilai dan
norma yang sudah mapan dan positif, 
(2). Menghilangkan unsur-unsur nilai
dan norma yang negatif, 
(3). Menumbuhkan unsur-unsur nilai dan norma baru yang belum ada dandianggap positif, 
(4). Bersikap receptive,selective, digestivse, assimilative, dan transmissive, (5). Menyelenggarakan penyucian nilai
dan norma yang sejalan dengan
nilai-nilai dan norma-norma nasrani
(Kekristenan nilai dan norma). Bentuk-bentuk nilai berdasarkan bidang yang dinilai misalnya nilai hukum, nilai estetika, nilai etika dan sebagainya, menurut para ahli dikelompokkan menjadi dua bagian, antara lain: 
(1). Nilai formal yaitu nilai yang tidak ada wujudnya melainkan berbentuk lambang atau simbol-simbol yang bisa karena terbentuk dari nilai sendiri misalnya Pa Dosen bagi seseorang yang memangku pekerjaan sebagai dosen, ada pula terbentuk karena turunan misalnya ibu Rektor karena istrinya pa Rektor. 
(2). Nilai material yaitu nilai yang berwujud dalam kenyataan pengalaman bisa karena pengalaman rohani bisa juga karena pengalaman jasmani sehingga dapat dirasakan secra lahirvdan batin, pancaindra maupun rasio, misalnya nilai hidup (bebas, menindas, berjuang), nilai nikmat (puas, nyaman, aman), nilai guna (butuh, menunjang, peranan), nilai logika (cerita, membuktikan, paham), nilai estetika (music, berpakaian, anggun), nilai etika (ramah, serakah, sedekah), nilai
religi (sangsi, menyangkal, syirik).

6. Nilai-nilai Kekristenan yang membangun Peradaban
Awal mula yang menggolongkan nilai-nilai akhlak dalam kekristenan yang membangun peradaban dalam kalangan umat Nasrani adalah Yesus Kristus. Dilanjutkan kemudian oleh para Pendeta mengklasifikasikan niali-nilai akhlak berdasarkan Alkitab ada beberapa jenis antara lain:
(1). Nilai-nilai akhlak perseorangan meliputi : 
Kesucian jiwa, menjaga diri, menguasai nafsu, menjaga nafsu makan dan seks, menahan rasa marah marah, bersikap benar, lemah lembut dan rendah hati, berhati-hati mengambil keputusan, menjauhi buruk sangka, tetap dan sabar, teladan yang baik, sederhana,beramal saleh, berlomba-lomba dalam kebaikan, pintar mendengar dan mengikuti, berhati ikhlas. Nilai-nilai akhlak yang terlarang diantaranya adalah: bunuh diri, berbohong, nifaq, munafiq, bakhil, mubazir, meniru, sombong.

(2). Nilai-nilai akhlak dalam keluarga meliputi : 
Kewajiban terhadap orang tua dan anak, kewajiban suami-istri, kehidupan rumah tangga, etika perceraian, kewajiban terhadap karib kerabat, dan prinsip-prinsip warisan.

(3). Nilai-nilai akhlak sosial meliputi :
A. Yang dilarang seperti membunuh manusia, mencuri, menipu, menghutangi dengan bunga, penipuan, hak milik tidak halal, memakan harta anak yatim, mengkhianati amanah, kerjasama untuk kejahatan, membela pengkhianatan, menipu dan mengkhianati, menipu dan merusak hakim, saksi palsu, menyembunyikan kebenaran, berkata buruk, memperlakukan anak yatim dan fakir dengan buruk, menganggap rendah orang lain, memata-matai orang lain, bermaksud jahat dan cepat membenarkan, turut campur yang berbahaya, tidak peduli terhadap hal yang awam.

B. Yang diperintahkan seperti memenuhi amanah, mengatur perjanjian untuk menyelesaikan sesuatu yang meragukan,
menepati janji, memberi kesaksian benar, mengislahkan, memaafkan, saling mengasihi, berbuat ikhsan kepada yang fakir, mengembangkan harta anak-anak yatim, memerdekaan hamba-hamba dan pembebasannya, tidak mengabaikan kejahatan orang jahat, membalas kejahatan dengan kebaikan, mengajak
kepada kebaikan dan melarang kejahatan, menyebarkan ilmu pengetahuan, persaudaraan dan sifat pemurah, kecintaan terhadap sesama manusia, keadilan, kasih sayang dan ihksan, mencela kebatilan.
C. Tata tertib kesopanan seperti izin sebelum masuk rumah, merendahkan suara dan tidak memanggil orang dewasa dari luar, memberi salam ketika masuk, membalas salam lebih baik, duduk dengan baik, judul pembicaraan harus baik, menggunakan kata-kata manis, meminta izin ketika hendak pulang.

(4). Nilai-nilai akhlak dalam negara meliputi:
A. Hubungan antara kepala negara dan rakyat seperti bermusyawarah, menandatangani keputusan, memakai prinsip keadilan, menjaga ketentraman, menjaga harta benda awam, memberi hak-hak golongan minoritas. Kewajiban rakyat seperti disiplin, taat yang bersyarat, bersatu pada cita-cita yang tertinggi, bermusyawarah pada persoalan awam,
menjauhi kerusakan, menyiapkan diri bagi pembelaan negara, menjaga mutu moral, tidak membantu musuh,dll.
B. Hubungan dengan luar negeri seperti memberi perhatian terhadap pedamaian, tidak berselisish pada waktu dan keadaan tertentu.

(5) Nilai-nilai akhlak agama
Meliputi : 
Semua yang bersangkut kewajiban hamba
terhadap Allah Bapa seperti beriman, taat, beribadah/membaca Firman-Nya, mengasihi sesama, mensyukuri nikmat, menjadikan Yesus sebagai sumber pengharapan dan mengakui-Nya sebagai Juru Selamat yang menebus dosa manusia, dll.

C. PENUTUP
Nilai-nilai terbangun dari insan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki berbagai potensi, pada gilirannya tidak lepas dari nilai-nilai yang lebih tinggi dan lebih universal yaitu nilai-nilai ilahi. Penghayatan sebuah nilai-nilai dalam membentuk suatu karakter membutuhkan proses belajar dan ketundukan pada hukum proses belajar dimana pada nilai-nilai tertentu menjadi perangsang bagi nilai-nilai lain untuk manusia implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang berlaku pada nilai-nilai yang dianut manusia akan menjadi budaya dan mempengaruhi pada perkembangan peradaban manusia sebagai pencipta peradaban itu sendiri. Maka kitalah sebagai mausia yang patut mengamalkan nilai-nilai tersebut dan kita pula yang menjadi sumber kepatuhan nilai-nilai. Oleh karena itu nilai-nilai yang dibangun harus merupakan perwujudan dari manusia yang berbudaya dan berperadaban. 

Sabtu, 29 September 2018

CERITA RAKYAT : PUTERI BULAN DI NIMBORAN

Dipublikasikan

Oleh :

Piethein Andris Wakum,SIP.,MM

Di Keitemung, Nimboran pada zaman yang tak diketahui, hiduplah seorang peladang yang membuat ladangnya jauh di sebelah timur kampung itu, di tepi Danau Sentani. Ladangnya sangat besar dan dilindungi dengan bentangan kayu yang besar-besar, tinggi dan kokoh sehingga tidak memberikan celah pada setiap orang dan binatang besar masuk ke dalamnya untuk mencuri.

Setiap pagi hari, peladang ini mengunjungi ladangnya dengan perasaan heran yang semakin hari semakin bertambah karena ia menemukan bekas kaki babi yang sangat banyak di dalam ladangnya diantara tanaman namun ia tidak menemukan dari mana babi-babi yang masuk ke ladangnya berdatangan karena seluruh pagar masih tetap berdiri dengan teguh tanpa celah yang memberikan peluang untuk binatang jenis babi masuk keluar ladang dengan bebas.

Dorongan hasrat untuk mengetahui dari mana babi-babi hutan masuk pagar ladangnya semakin menguatkan niat peladang itu untuk bersembunyi dan mengintip.

Pada suatu malam, ia berjaga dengan bersembunyi di dalam hutan di sisi luar pagar ladangnya. Tepat tengah malam ia sangat terperanjat ketika melihat sesosok puteri keluar dari dalam air Danau Sentani dan berjalan langsung menuju ladangnya. Tangan puteri bulan memegang beberapa taring dan kuku kaki babi hutan yang akan digunakannya untuk meninggalkan bekas di ladang setelah mencuri tanaman. Wajah puteri bulan bersinar lembut menerangi seluruh ladang dan hutan-hutan di sekitarnya yang memantulkan keindahan Danau Sentani di malam hari.

Pegunungan Cycloop menjadi semakin indah kebiruan diselimuti awan pada puncaknya yang tertinggi ketika sinar puteri bulan dipantulkan kembali ke mata peladang Keitemung. Sangat mengagumkan tetapi mengapa puteri bulan mencuri di dalam ladang?

Ketika puteri bulan memanjat pagar ladang, peladang itu menangkap tangannya dan menjatuhkannya ke bawah di luar ladang dan memasukkannya ke dalam kantong jaring tali yang besar, puteri bulan dijerat ke dalam kantong itu namun terang wajahnya masih tetap menyinari seluruh sisi luar kebunnya kemudian ia membawa pulang ke rumahnya dan disimpan dalam koper kayu pada setiap siang hari.

Bila malam hari tiba, peladang membawa puteri bulan ke ladang atau ke tempat lain untuk mencari binatang buruan di hutan. Sejak ia memperoleh puteri bulan, setiap malam ia pergi berburu babi hutan di jebakan Pohon Sagu, ia bersembunyi dan menyembunyikan puteri bulan dalam kantongnya dan kantong itu disembunyikan dibalik Pohon-pohon Sagu.

Ketika ia mendengar suara dan bunyi langkah babi hutan mendekat untuk makan sagu, segera ia mengeluarkan puteri bulan dari dalam kantong yang disembunyikannya, mengangkat tinggi dan kegelapan malam di tengah Hutan Sagu berubah menjadi terang benderang yang membuat babi hutan kaget, tak berdaya dan diam di tempat sehingga peladang memanahnya dengan enteng sampai mati. Demikianlah dilakukan setiap malam hari, perburuan yang selalu berhasil tanpa tantangan.

Rahasia kepemilikan atas puteri bulan belum diketahui oleh Penduduk Kampung Keeitemung. Peladang tak menyangka, ada orang kampung yang mulai curiga keberhasilan berburu yang ia lakukan setiap malam.

Suatu malam, ia kembali meninggalkan kampung untuk berburu, tanpa sepengetahuan peladang itu, seseorang membuntutinya dari belakang untuk mengadakan penyelidikan. Orang itu sangat heran ketika mengetahui cara peladang memperoleh seluruh binatang buruannya. Ketika kantong peladang diletakkan kembali di tempat persembunyiannya, ada tangan lain yang mengambil keluar puteri bulan dari dalam kantongnya, terjadi tarik-menarik puteri bulan antara kedua orang ini sehingga puteri bulan terbagi dua bagian. Sang pencuri melemparkan sebagian tubuh puteri bulan ke atas sehingga ia melayang menjauhi keduanya.

Peladang yang sedang geram menyatakan kepada pencuri, “Karena engkau telah mengetahui rahasia saya maka saya juga melemparkan sebagian tubuh puteri bulan ke atas.”

Dua bagian tubuh puteri bulan bersatu di atas Kampung Keitemung dan mulai saat itu, sinar bulan purnama dapat digunakan secara bersama-sama oleh semua orang kampung untuk berburu babi hutan di dusun sagu masing-masing pada malam hari ketika sang rembulan muncul dengan indahnya.

Kata yang mempunyai cerita, kalau si pengintip tidak pernah mengikuti peladang dari belakang maka sampai saat ini bulan terang hanya dikuasai satu orang peladang dan keturunannya dalam garis laki-laki dari Kampung Keitemung di Nimboran.

Sumber :

https://www.facebook.com/774033772987237/posts/788709011519713/

(Sumber/penutur Selfina Hamokwarong/Griapon, 1974)

Cerita Rakyat Waropen – Legenda Manusia jadi Hewan

Dipublikasikan

Oleh :

Piethein Andris Wakum, S.IP.,MM

Alkisah, Pada zaman dahulu di pulau Yapen dan pulau-pulau di sekelilingnya tidak dihuni oleh seorangpun. Dari mana asal dan datangnya penduduk yang ada pada dewasa ini, dikatakan bahwa dulunya mereka bertempat tinggal di gunung Tonater di daerah Waropen. Pada waktu itu mereka hanya memiliki satu bahasa.

Pada suatu hari penduduk gunung Tonater ini berniat untuk membuat sebuah menara yang tingginya dapat mencapai bulan. Adapun maksud pembuatan menara ini adalah supaya mereka boleh naik ke bulan, untuk menemui para bidadari yang berada di bulan. Menara tersebut dibuat dengan bambu dan di beri bertangga. Dari hari ke hari mereka sibuk mengerjakannya agar rencana mereka terwujud.

Pada suatu hari sementara mereka sibuk memasang rangka, tiba-tiba menara itu goyah lalu rubuh bersama orang-orangnya yang menyebabkan kematian dan bahasa persatuan merekapun hilang. Orang-orang yang meninggal kemudian menjelma menjadi hewan. Ada yang menjadi kasuari, ular, babi, burung-burung dan ada pula yang menjadi ikan seperti : ikan paus, hiu dan sebagainya.

Hewan-hewan ini kemudian mengadakan musyawarah dan telah bermufakat untuk meninggalkan gunung Tonater, karena tempat ini membawa aib bagi mereka. Oleh sebab itu mereka akan menyebar dan mendiami pulau Papua. Ada yang mengungsi ke ujung Timur Papua, ada pula yang ke Barat, ke Utara maupun ke Selatan. Selain di tanah besar ada juga yang menyebar ke pulau-pulaul, seperti : Pulau Yapen, Pulau Biak, Pulau-pulau Moor, Raja Ampat dan lain sebagainya.

Keesokan hari sebelum fajar menyingsing, sebuah perahu sudah siap tertambat dimuara kali Demba. Hewan-hewan yang yang hendak ikut semuanya telah siap diperahu. Saat itu mereka mereka merasa bahagia, karena yang dicita-citakan telah tercapai.

Kini tibalah waktunya untuk bertolak, maka perahupun dilepas kemudian meluncur dipermukaan air meninggalkan muara kali Demba, menuju selat Saireri yang tenang dan kebiru-biruan. Keadaan cuaca di selat Saireri pada pagi itu sangat cerah. Perahupun terasa makin lama semakin laju, seperti menggunakan motor tempel layaknya. Sebentar-sebentar terlihat oleh mereka, sebuah titik yang makin lama makin membesar dan berbentuk sebuah hulu perang. Itulah barisan gunung di pulau Yapen yang membentang dari ujung timur ke sebelah Barat. Karena si Kasuari senang lalu ia berdiri untuk meyakinkan penglihatannya, namun ia tidak menyadari keadaan, sehingga kakinya yang runcing telah menembus dasar perahu.

Akibat perahu berlubang air laut masuk dan hampir-hampir saja mereka tenggelam. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan air, ternyata usaha mereka inipun tidak menolong juga. Terpaksa Tikus tanah berusaha menutupi lubang perahu dengan moncongnya yang besar dan lebar. Dengan cara ini mereka tertolong, namun sewaktu-waktu moncongnya kemasukan air terpaksa dikeluarkannya untuk bernapas sebentar.

Demikianlah dilakukannya berulang-ulang sehingga mereka tiba dipantai pulau Yapen. Tempat pendaratan mereka ialah pasir putih Arareni di Randawaya.

Setiba didaratan, mereka menghembuskan napasnya dengan berlapang dada serta berterimakasih kepada sang pencipta, karena telah tiba dengan selamat.

Saat itu juga Kasuari meninggalkan teman-temannya lalu menghilang ke dalam hutan. Ditelitinya keadaan hutan, apakah dapat menjamin ketentraman hidup mereka atau tidak. Sudah beberapa hari ia meninggalkan teman-temannya,tetapi belum muncul juga.

Pada suatu hari Kasuari kembali lagi dengan membawa berita yang sangat menyenangkan bagi kawan-kawannya. Sejak itu mereka berpisah satu sama lain dan menyebar ke seluruh pelosok pulau Yapen dan mendiaminya hingga hari ini.

Selain itu karena mereka berasal dari keturunan hewan, maka bagi keluarga yang bersangkutan pantang memakan daging jenis hewan tersebut. Dalam hal ini misalkan fam Karubaba pantang untuk memakan daging anjing, sedangkan fam Mansai pantang makan daging kasuari.

Akibat keruntuhan menara kebulan, menimbulkan penyebaran penduduk sehingga menyebabkan penggunaan bahasa didaerah Yapen Waropen banyak ragamnya.

Sumber :

https://www.facebook.com/774033772987237/posts/788735481517066/

KURABESI/GURABESI MANBRI (PANGLIMA PERANG) SUKU BYAK

KURABESI/GURABESI MANBRI (PANGLIMA PERANG) SUKU BYAK

Oleh :

Piethein Andris Wakum,S.IP,.MM

Kurabesi adalah seorang Kamasan dan Manbri (dibaca Mambri) yang konon punya pengaruh yang sangat besar di wilayah Papua khususnya Raja Ampat (Korano Fyak) bahkan sampai ke Maluku.

Menurut cerita turun temurun suku Biak khususnya orang Biak Utara (bar barisen) bahwa Kurabesi adalah Manbri Bar-barisen yang Ke-manbrian-nya sudah telihat sejak kecil. Nama Biaknya adalah Sekfamneri (Sekpum), Sekfamneri berarti ”mendapat penolakkan, mereka (dua) di tolak”. Ibunya bernama Insundi yang hamil diluar nikah.

Peristiwa ini terjadi sewaktu seekor ular naga (korben) menyerang kampung Korem, yang menelan begitu banyak korban, belakangan Sekfamneri-lah yang membunuh ular itu. Peristiwa ini menyebabkan banyak orang Biak Utara harus meninggalkan kampung halaman mereka di Korem untuk mencari tempat baru. Banyak orang Biak Utara harus berimigrasi ke tempat lain di pulau Biak, Supiori dan bahkan sampai ke Raja Ampat dan daerah lainnya.

Dalam cerita lisan orang Biak Beser (Betew) Kurabesi berasal dari suku Omka, ibunya bernama Pinthe (Pintake) yang berasal dari pulau Waigeo. Pintake hamil diluar nikah dan karena keluarganya malu, akhirnya saudara-saudara Pintake (6 saudara laki-laki) mengusirnya, Pintake naik disebuah sampan kecil keluar dari teluk Kabui dan bertemu dengan orang-orang Biak yang hendak pulang ke teluk Cenderawasih. Akhirnya Pintake pun ikut bersama mereka dan melajutkan perjalan ke Waropen. Pintake melahirkan anak lelaki yang belakangan dinamai Kurabesi.

Menurut cerita orang Betew, nama “Kurabesi” berasal dari bahasa Biak (kura=kita berdua berangkat/pergi dan besi=ke mereka) yang artinya kita pergi ke mereka. Kurabesi menjadi remaja dan besar di Waropen. Kurabesi menjalin hubungan romantis dengan wanita Waropen dan menghamilinya diluar pernikahan adat yang menyebabkan ibunya Pintake menyuruh Kurabesi untuk pergi ke paman-pamannya atau om-omnya di Waigeo. Bersama dengan orang-orang Biak, rombongan itu menuju Waigeo untuk bertemu dengan keluarga besarnya suku Omka.

Namun, jika kita menelusuri cerita orang Biak Beser dan Orang Biak Utara ada kesamaan cerita meskipun nama tokoh-tokoh itu berbeda. Namun muncul pertanyaan, Kurabesi sebenarnya ada dalam periode waktu mana? Apakah Kurabesi yang disebutkan itu adalah Sekfamneri? Sangat sedikit informasi tentang keberadaan Kurabesi, kebanyakan merupakan cerita lisan. Namun, kita bisa mendeteksinya melalui cerita lisan, sejarah dan silsilah keluarga. Kurabesi adalah tangan kanan Sultan Ciriliati alias Jamaludin yang menjadi Raja ke-4 pada tahun 1495-1512 di Kerajaan Tidore. Dalam catatan Haga, Kurabesi adalah orang kepercayaan Sultan Jamaludin. Dan dalam catatan ”Museum Memorial Kesultanan Tidore Sinyine Mallige” dijelaskan bahwa pada tahun 1453 M sultan Ibnu Mansur bersama Kurabesi memimpin ekspedisi ke dataran tanah besar beserta pulau-pulau melewati Patani Gebe dan Waigeo.

Namun jika dihitung menggunakan silsilah keret suku Biak yang masih memiliki hubungan darah dengan Kurabesi, rupanya perhitungan itu jatuh pada periode tahun 1700-an. Artinya Kurabesi hidup di tahun 1700-an. Ini berarti Kurabesi hidup pada zaman kerajaan sultan Nuku (Jou Barakati Nuku) yang memerintah pada tahun 1797 – 1805. Jika Kurabesi hidup mulai dari tahun 1453-1805 masa-nya sultan Nuku, berarti umur Kurabesi adalah 310 tahun. Sangat tidak mungkin! KEMUNGKINAN ada DUA ORANG yang bernama Kurabesi yang hidup dalam periode waktu yang berbeda. Mungkin yang satu-nya hidup dalam periode 14945-1512 Masehi pada era Sultan Jamaludin dan yang satunya lagi hidup pada era sultan Nuku periode tahun 1797-1805 Masehi. Dalam tradisi suku Biak, memberi nama seorang berkaitan dengan nama leluhur atau generasi kakek-buyut sehingga generasi berikutnya bisa menggunakan nama kakek-buyut mereka. Sehingga ada kemungkinan bahwa dua Manbri hidup di periode seperti telah dijelaskan diatas.

Sumber :

https://www.facebook.com/774033772987237/posts/806131763110771/

Senin, 16 November 2015

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

ILMU ALAMIAH DASAR

OLEH : PIETHEIN WAKUM, S.IP

MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
2015

A.MANUSIA
Dalam ilmu eksakta, manusia dipandang sebagai kumpulan dari partikel-partikel atom yang membentuk jaringan-jaringan sistem yang dimiliki oleh manusia (ilmu kimia), manusia merupakan kumpulan dari berbagai sistem fisik yang saling terkait satu sama lain dan merupakan kumpulan dari energi (ilmu fisika), manusia merupakan makhluk biologis yang tergolong dalam golongan makhluk mamalia (biologi). Dalam ilmu-ilmu sosial manusia merupakan makhluk yang ingin memperoleh keuntungan atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan, sering disebut homo economicus (ilmu ekonomi), manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri (sosiologi), makhluk yang selalu ingin mempunyai kekuasaan (politik) makhluk yang berbudaya, sering disebut homo-humanus (filsafat), dan lain sebagainya.
Ada dua pandangan yang akan kita jadikan acuan untuk menjelaskan tentang unsur-unsur yang membangun manusia
1)Manusia terdiri dari empat unsur terkait, yaitu
a.Jasad,
b.Hayat.
c.Ruh,
d.Nafs.
2)Manusia sebagai satu kepribadian mengandung tiga unsur, yaitu :
a.Id, merupakan libido murni,atau energi psikis yang menunjukkan ciri alami yang irrasional dan terkait dengan sex, yang secara instingtual menentukan proses-proses ketidaksadaran (unconcious). Terkurung dari realitas dan pengaruh sosial, Id diatur oleh prinsip kesenangan, mencari kepuasan instingsual libidinal yang harus dipenuhi baik secara langsung melalui pengalaman seksual, atau tidak langsung melalui mimpi atau khayalan.
b.Ego, merupakan bagian atau struktur kepribadian yang pertama kali dibedakan dari Id, seringkali disebut sebagai kepribadian “eksekutif” karena peranannya dalam menghubungkan energi Id ke dalam saluran sosial yang dapat dimengerti oleh orang lain.
c.Superego, merupakan kesatuan standar-standar moral yang diterima oleh ego dari sejumlah agen yang mempunyai otoritas di dalam lingkungan luar diri, biasanya merupakan asimilasi dari pandangan-pandangan orang tua.

B.HAKEKAT MANUSIA
a.Makhluk ciptaan Tuhan yang terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.
b.Makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan makhluk lainnya. Terdiri dari dua hal,yaitu perasaan inderawi dan perasaan rohani. Perasaan rohani adalah perasaan luhur yang hanya terdapat pada manusia,misalnya:
1)Perasaan intelektual,
2)Perasaan estetis,
3)Perasaan etis,
4)Perasaan diri,
5)Perasaan sosial,
6)Perasaan religius.
c.Makhluk biokultural, yaitu makhluk hayati yang budayawi.
d.Makhluk ciptaan Tuhan yang terikat dengan lingkungan (ekologi), mempunyai kualitas dan martabat karena kemampuan bekerja dan berkarya.

C.KEPRIBADIAN BANGSA TIMUR
Francis L.K Hsu, sarjana Amerika keturunan Cina yang mengkombinasikan dalam dalam dirinya keahlian di dalam ilmu antropologi, ilmu psikologi, ilmu filsafat dan kesusastraan cina klasik.
Ilmu psikologi yang memang berasal dan timbul dalam masyarakat Barat, dimana konsep individu itu mengambil tempat yang amat penting. Biasanya menganalisis jiwa manusia dengan terlampaui banyak menekan kepada pembatasan konsep individu sebagai kesatuan analisis tersendiri.
Untuk menghindari pendekatan terhadap jiwa manusia itu, hanya sebagai subyek yang terkandung dslam batas individu yang terisolasi, maka Hsu telah mengembangkan suatu konsepsi, bahwa dalam jiwa manusia sebagai makhluk sosial budaya itu mengandung delapan daerah yang seolah-olah seperti lingkaran-lingkaran konsentris sekitar dan pribadi.
Nomor 7 dan nomor D disebut daerah tak sadar dan sub sadar. Kedua lingkaran itu berada di daerah pedalaman dari alam jiwa individu dan terdiri dari bahan pikiran dan gagasan yang telah terdesak ke dalam.
Nomor 5 disebut kesadaran yang tak dinyatakan (unexpressed conscious). Lingkaran it terdiri dari pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan yang disadari oleh si individu yang bersangkutan,tetapi disimpannya saja di dalam alam jiwanya sendiri dan tak dinyatakan kepada siapapun juga dalam lingkungannya. Hal itu disebabkan ada kemungkinan, bahwa :
a)Ia takut salah dan takut dimarahi orang apabila ia menyatakannya, atau karena ia punya maksud jahat.
b)Ia sungkan menyatakannya, atau karena belum yakin bahwa ia akan mendapat respons dan pengertian yang baik dari sesamanya, atau takut bahwa walaupun diberi respons, respons itu sebenarnya tak diberikkan dengan hati yang ikhlas atau juga karena ia takut ditolak mentah-mentah.
c)Ia malu karena taku ditertawakan, atau karena ada perasaan bersalah yang mendalam.
d)Ia tidak bisa menemukan kata-kata atau perumusan yang cocok untuk menyatakan gagasan yang bersangkutan tadi kepada sesamanya.

Nomor 4 disebut kesadaran yang dinyatakan (expressed conscious). Lingkaran ini di dalam alam jiwa manusia mengandung pikiran-pikiran, gagasan-gagasan, dan perasaan-perasaan yang dapat dinyatakan secara terbuka oleh si individu kepada sesamanya.
Nomor 3 disebut lingkaran hubungan karib, mengandung konsepsi tentang orang-orang, binatang-binatang, atau benda-benda yang oleh si individu diajak bergaul secara mesra dan karib, yang bisa dipakai sebagai tempat berlindung dan tempat mencurahkan isi hati apabila ia sedang terkena tekanan batin atau dikejar-kejar oleh kesedihan dan oleh masalah-masalah hidup yang menyulitkan.
Nomor 2 disebut lingkungan hubungan berguna, tidak lagi ditandai oleh sikap sayang dan mesra, melainkan ditentukan oleh fungsi kegunaan dari orang, binatang atau benda-benda itu bagi dirinya.
Nomor 1 disebut lingkaran hubungan jauh, terdiri dari pikiran dan sikap dalam alam jiwa manusia tentang manusia, benda-benda, alat-alat, pengetahuan dan adat yang ada dalam kebudayaan dan masyarakat sendiri, tetapi yang jarang sekali mempunyai arti dan pengaruh langsung terhadap kehidupan sehari-hari.
Nomor 0 disebut lingkungan dunia luar, terdiri dari pikiran-pikiran dan anggapan-anggapan yang hampir sama dengan pikiran yang terletak dalam lingkungan nomor 1, hanya bedanya terdiri dari pikiran-pikiran dan anggapan-anggapan tentang orang dan hal yang terletak di luar masyarakat dan negara Indonesia, dan ditanggapi oleh individu bersangkutan dengan sikap masa bodoh.

D.PENGERTIAN KEBUDAYAAN
Melville J. Herkovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa Cultural Determinism berarti segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat ditentukkan adanya oleh kebudayaan yang dimiliki masyarakat itu.
Herkovis memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang superorganic, karena kebudayaan yang turun temurun dari generasi ke generasi hidup terus.
Dalam sehari-hari istilah kebudayaan sering diartikan sama dengan kesenian, terutama seni suara dan seni tari.
Kebudayaan dari bahasa sansekerta berasal dari kata budhayah yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa latin, kebudayaan berasal dari kata colere, yang berarti mengolah tanah. Jadi secara umum dapat diartikan sebagai “segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi (pikiran) manusia dengan tujuan untuk mengolah tanah atau tempat tinggalnya, atau dapat pula diartikan segala usaha manusia untuk dapat melangsungkan dan mempertahankan hidupnya di dalam lingkungannya.”.
E.B.Tylor (1871) mendefinisikan bahwa kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan sebagai anggota masyarakat.
Selo Sumarjan dan Soelaeman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Sutan Takdir Alisyahbana mengatakan bahwa kebudayaan adalah manifestasi dari cara berpikir.

E.UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN
Melville J. Herkovits mengajukan pendapatnya tentang unsur kebudayaan menmpunyai empat unsur, yaitu alat-alat teknologi, sistem ekonomi, keluarga dan kekuatan politik. Sedangkan Broinslaw Malinowski mengatakan unsur-unsur itu terdiri dari sistem norma, organisasi ekonomi, alat-alat atau lembaga ataupun petugas pendidikan, dan organisasi kekuatan.
C.Kluckhohn dalam karyanya berjudul Universal Categories of Culture mengemukakan ada tujuh kebudayaan universal,yaitu :
1. Sistem Religi (sistem kepercayaan)
2. Sistem Organisasi Kemasyarakatan
3. Sistem Pengetahuan
4. Sistem mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi
5. Sistem Teknologi dan Peralatan
6. Bahasa
7. Kesenian.

F.WUJUD KEBUDAYAAN
Menurut dimensi wujudnya, kebudayaan mempunyai tiga wujud yaitu,
1.Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia.
2.Kompleks aktivitas.
3.Wujud sebagai benda.

G.ORIENTASI NILAI BUDAYA
Menurut C.Kluckhohn dalam karyanya Variation in Value Orientation (1961) sistem nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia, secara universal menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia, yaitu :
1.Hakekat hidup manusia (MH)
2.Hakekat karya manusia (MK)
3.Hakekat waktu manusia (WM)
4.Hakekat alam manusia (MA)
5.Hakekat hubungan manusia (MN)

H.PERUBAHAN KEBUDAYAAN
Terjadinya gerak/perubahan ini disebabkan oleh beberapa hal :
1.Sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri.
2.Sebab-sebab perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup.
Perubahan ini, selain karena jumlah penduduk dan komposisinya, juga karena adanya difusi kebudayaan, penemuan-penemuan baru, khususnya teknologi dan inovasi.
Perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalamsuatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
Perubahan kebudayaan adalah perubahan yang terjadi dalam sistem ide yang dimiliki bersama oleh para warga masyarakat atau sejumlah warga masyarakat yang bersangkutan, antara lain aturan-aturan, norma-norma yang digunakan sebagai pegangan dalam kehidupan, juga teknologi, selera, rasa keindahan (kesenian), dan bahasa.

I.KAITAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
Secara sederhana hubungan antara manusia dan kebudayaan adalah manusia sebagai perilaku kebudayaan, dan kebudayaan merupakan obyek yang dilaksanakan manusia.
Dari sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis, maksudnya saling terkait satu sama lain, proses dialektis tercipta melalui tiga tahap, yaitu :
1.Eksternalisasi, yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya.
2.Obyektivasi, yaitu proses dimana masyarakat menjadi realitas obyektif.
3.Internalisasi, yaitu proses dimana masyarakat disegrap kembali oleh manusia.

Manusia dan kebudayaan, atau manusia dan masyarakat, oleh karena itu mempunyai hubungan keterkaitan yang erat atu sama lain. Pada kondisi sekarang ini kita tidak dapat lagi membedakan mana yang lebih awal muncul manusia atau kebudayaan.

OPINI

Dari penjabaran di atas, saya mempunyai opini tentang hubungan manusia dan kebudayaan, yaitu :

Manusia merupakan makhluk sosial yang diberi kelebihan oleh ALLAH SWT yaitu pikiran dan akal sehat. Kebudayaan bagi saya lebih dekat kepada karya seni yang tumbuh dari suatu kumpulan masyarakat. Seperti tarian, adat istiadat, suara nada sebuah lagu atau irama yang berbeda-beda sesuai dengan ciri khas daerah sekumpulan masyarakat tersebut. Kebudayaan bisa juga didasarkan karena pikiran dan kreativitas seseorang sehingga jadilah sebuah karya yang bisa di buat sebagai hak patennya suatu daerah yang di jadikan suatu ciri khas daerah tersebut.
Menurut saya manusia dan kebudayaan sangat berhubungan karena tanpa kebudayaan, kehidupan manusia akan terasa datar dan tidak berwarna. Manusia mungkin saja bisa hidup tanpa kebudayaan, tapi kebudayaan bisa hidup karena kreatifitas yang ada dalam diri manusia tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Mustopo, M. Habib; Manusia dan budaya kumpulan esay; Usaha Nasonal, Surabaya, 1990.
MP. Suyadi, Drs; Ilmu Budaya Dasar; Modul UT; PT Karunika, Jakarta, 1990.
Muhamad Kadir SH, Ilmu Budaya Dasar; Fajar Agung, Jakarta, 1990.
Soekanto Sorjono; sosiologi suatu pengantar; Rajawali Pers, Jakarta, 1990.