Disusun Oleh :
Piethein Wakum,S.IP.,M.M
ABSTRAK
Budaya-budaya asing cenderung membuka ruang pada asimilasi dan kultur budaya dunia terutama kedalam sendi kehidupan anggota keluarga. Situasi dan kondisi sosiologis menunjukkan terjadinya pergeseran nilai yang terjadi hampir disetiap bidang dan sendi kehidupan manusia, terutama bidang pendidikan. Pendidikan karakter menjadi sangat penting sebagai upaya pembangunan karakter bangsa terutama keluarga. Pendidikan karakter yang dimaksud adalah pendidikan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai budaya luhur orang tua atau moyang pendahulu.
Berawal dari nilai-nilai yang diciptakan manusia berupa nilai beragama, nilai ekonomi, nilai politik, nilai praktik, nilai subjektif, nilai estetika, nilai sosial, nilai seni, nilai ilmu pengetahuan, serta nilai dasar. Kemudian Nilai-nilai yang membangun karakter manusia berupa nilai filosofis, nilai budaya, nilai agama, nilai tujuan. Lalu Nilai-nilai budaya yang berpengaruh terhadap peradaban diantaranya kombinasi konsep nilai individu dan masyarakat, dan kombinasi konsep nilai spiritual dan material. Sementara Nilai-nilai menurut agam yang membangun peradaban adalah nilai akhlak. Maka pendidikan sebagai lembaga sosial yang berfungsi dalam pembentukan karakter manusia yang berbudaya dan melakukan proses pembudayaan nilai-nilai, perlu adanya upaya peningkatan kualitas hidup manusia, pendidikan dan kebudayaan. Antara pendidikan dan kebudayaan dapat menjadi dua komponen yang mendeterminasi satu sama lain. Hubungan ketergantungan di antara keduanya mengandung pengertian bahwa kualitas pendidikan akan menunjukkan kualitas budaya. Demikian juga selanjutnya, kualitas kebudayaan akan menunjukkan kualitas manusia yang berperadaban. Dengan demikian pendidikan karakter yang berbudaya yang mampu menciptakan peradaban yang beradab tercermin dari nilai-nilai yang dianut oleh bangsanya sendiri.
Kata Kunci :
Nilai yang diciptakan,
Nilai karakter,
Nilai budaya dan
Nilai kekeluargaan
A. PENDAHULUAN
Pendidikan karakter saat ini menjadi urgen untuk diperhatikan. Istilah pendidikan karakter yang dicetuskan oleh para tokoh pendidikan yang concern pada pendidikan yang telah membuka pemikiran baru tentang pendidikan yang unggul kemudian menguat ketika para intelektual hari ini yang menekankan pentingnnya pendidikan karakter sebagai upaya pembangunan karakter bangsa. Konteksnya adalah pendidikan karakter nasional. Masyarakat yang memiliki karakter kebangsaan yang kuat harus memiliki kekuatan untuk menyaring budaya-budaya asing yang cenderung membuka ruang pada asimilasi dan kultur budaya dunia. Agar terbangun sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter, maka semua potensi perlu dikelola dengan sistem pendidikan yang baik. Pendidikan saat ini sebagai tempat tumbuhnya pribadi-pribadi dalam masyarakat yang terombang-ambing oleh derasnya situasi yang sangat tidak menguntungkan bagi kestabilan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Tidak hanya efek industrialisasi yang mencobak-cabik pendidikan, gelombang informasi yang semestinya memberi harapan lebih baik malah telah menimbulkan masalah baru yang lebih kompleks. Hal ini akan mengkristal pada budaya yang mampu melahirkan peradaban yang tidak berkemanusiaan. Ini akan menjadi krisis pendidikan yang dialami maka problematika pendidikan di masa kini akan menjadi urgen bagi pendidikan di masa depan. Situasi dan kondisi sosiologis yang terjadi di masyarakat dewasa ini menunjukkan terjadinya pergeseran nilai pada hampir setiap bidang dan sendi kehidupan manusia, terutama bidang pendidikan. Kondisi semacam ini tampak pada fenomena di lembaga pendidikan formal dan nonformal yang selalu menyajikan nilai-nilai kebaikan, nilai-nilai kesusilaan, dan sebagainya, akan tetapi dalam kehidupan riilnya, mereka banyak menjumpai hal-hal yang sering bertentangan dengan nilai-nilai tersebut. Proses distorsi nilai seperti ini terjadi dalam pendidikan, tidak terkecuali lembaga pendidikan Kristen.
Pendidikan sebagai lembaga sosial yang berfungsi dalam pembentukan karakter manusia yang berbudaya dan melakukan proses pembudayaan nilai-nilai, maka dalam upaya peningkatan kualitas hidup manusia, pendidikan dan kebudayaan dapat menjadi dua komponen yang mendeterminasi satu sama lain. Di satu sisi, pengembangan dan kelestarian kebudayaan berlangsung dalam proses pendidikan dan memerlukan pengelolaan pendidikan. Sementara itu, dalam mengembangkan pendidikan membutuhkan suatu sistem kebudayaan yang dapat mendukung berlangsungnya pendidikan. Sehingga pendidikan membutuhkan stabilitas budaya yang mapan. Sebaliknya, pengembangan kebudayaan membutuhkan kebebasan kreatif dari suatu sistem pendidikan. Hubungan ketergantungan di antara keduanya mengandung pengertian bahwa kualitas pendidikan akan menunjukkan kualitas budaya. Demikian juga kualitas Pendidikan karakter yang dimaksud adalah pendidikan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai budaya luhur moyang pendahulu dalam berkeluarga, berbangsa dan negara. Dalam hal ini kebudayaan akan menunjukkan kualitas manusia yang berperadaban. Masalahnya adalah nilai-nilai apa yang diciptakan oleh manusia, nilai-nilai apa saja yang dapat membangun karakter manusia, nilai berkarakter mana yang dapat membangun budaya manusia, dan nilai-nilai budaya apa yang mampu berpengaruh terhadap peradaban manusia didalam keluarga?.
B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Nilai
Berbicara masalah nilai merupakan sesuatu yang menarik bagi kita, sesuatu yang dicari, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang disukai dan diinginkan, singkatnya sesuatu yang baik. Para pakar mengatakan bahwa nilai adalah the addressee of a yes (sesuatu yang ditunjukan dengan ya). Dalam kamus popular, nilai diartikan sebagai ide tentang apa yang baik, benar, bijaksana dan apa yang berguna, sifatnya lebih abstrak dari norma. Ditinjau dari sudut pandang tema filosofis tentang hakikat subjektif, nilai merupakan reaksi yang diberikan oleh manusia sebagai pelaku. Pengikut teori idealisme subjektif seperti positivisme logis, emotivisme, analisis linguistik dalam etika, menganggap nilai sebagai sebuah fenomena kesadaran dan memandang nilai sebagai pengungkapan perasaan pada nilai-nilai karakter yang Membangun Peradaban Manusia terutama dalam kekeluargaan.
Psikologis yaitu sikap subjektif manusia kepada objek yang dinilainya. Berbeda halnya dengan kaum rasionalis mengatakan bahwa nilai merupakan esensi-esensi logis dan dapat diketahui melalui akal. Sedangkan kaum empiris memandang nilai sebagai unsur-unsur objektif yang menyusun kenyataan. Dalam buku Kamus Filsafat menjelaskan bahwa nilai dalam bahasa Inggris disebut value, bahasa Latin valere artinya berguna, mampu akan sesuatu, berdaya, berlaku, kuat. Ditinjau dari segi harkat, nilai adalah kualitas suatu hal yang menjadikan hal itu dapat disukai, diinginkan, berguna, atau dapat menjadi objek terpenting. Ditinjau dari segi keistimewaan, nilai adalah apa yang dihargai, dinilai tinggi atau dihargai sebagai sesuatu kebaikan. Lawan dari suatu nilai positif adalah “tidak bernilai” atau “nilai negatif”. Baik akan menjadi suatu nilai dan lawannya (jelek, buruk) akan menjadi suatu “nilai negatif” atau “tidak bernilai”. Ditinjau dari sudut Ilmu ekonomi memiliki arti kegunaan nilai tukar benda-benda material. Secara historis, istilah yang lebih umum dipakai dalam nilai adalah etika (ethics) atau moral (morals). Secara filosofis dikenal dengan istilah axios (nilai) dan logos (teori) atau aksiologi yaitu the theory of value atau teori nilai tentang baik dan buruk (good and bad), benar dan salah (right and wrong), serta tentang cara dan tujuan (means and ends). Aksiologi mencoba merumuskan suatu teori yang konsisten untuk perilaku etis, yaitu sesuatu yang memungkinkan seseorang berbicara tentang moralitas, melalui kata-kata atau konsep-konsep “seharusnya” atau “sepatutnya” (ought/should). Maka aksiologi merupakan analisis tentang kepercayaan, keputusan, dan konsep-konsep moral dalam rangka menciptakan atau menemukan suatu teori nilai. Oleh karena itu, etika, moral dan akhlak selalu dikaitkan dengan nilai. Jika dihubungkan dengan istilah pendidikan karakter, maka ada beberapa ciri dasar nilai dalam pendidikan karakter antara lain:
(1). Setiap tindakan diukur berdasarkan hierarki nilai, sehingga nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan,
(2). Koherensi keberanian memperteguh prinsip,
(3). Adanya otonomi internalisasi aturan kepada nilai-nilai pribadi individu,
(4). Membangun keteguhan dan kesetian terhadap komitmen yang dipilih.
Adapun nilai-nilai yang perlu diajarkan dalam pendidikan karakter menurut Lickona (moral knowing), ada pada tiga komponen karakter yang baik antara lain:
(1). pengetahuan tentang moral
(2). Perasaan tentang moral (moral feeling),
(3). Perbuatan bermoral (moral action).
Cara yang digunakan untuk menjelaskan nilai adalah memperbandingkan dengan fakta. Berbicara tentang fakta yaitu berbicara sesuatu yang ada dan berlangsung begitu saja, dapat ditemui dalam teks deskripsi yang pada prinsipnya dapat diterima oleh semua orang. Berbicara tentang nilai yaitu berbicara tentang sesuatu yang berlaku, yang memikat peran dalam suasana apresiasi atau penilaian yang akibatnya sering akan dinilai secara berbeda oleh berbagai orang. Menurut Bertens, nilai setidaknya memiliki tiga kategori antara lain:
(1). Nilai berkaitan dengan subyek,
(2). Nilai dalam suatu konteks praktik,
(3). Nilai menyangkut sifat-sifat yang ditambah oleh subyek pada sifat-sifat yang dimiliki oleh objek,
(4). Nilai yang estetis meliputi indah, bagus dan menarik,
(5). Nilai dasar yaitu nilai yang merupakan syarat mewujudkan nilai lain seperti kesehatan, pendapatan, makanan, lingkungan dsb.
Dalam setiap masyarakat ada banyak nilai yang berlaku. Sprange menyebutkan ada enam nilai, antara lain:
(1). Nilai ilmu pengetahuan,
(2). Nilai ekonomi
(3). Nilai agama
(4). Nilai seni
(5). Nilai sosial
(6). Nilai politik
Nilai erat kaitannya dengan sikap. Nilai merupakan disposisi yang lebih luas dan sifatnya lebih mendasar, berakar lebih dalam sehingga lebih stabil dibandingkan sikap. Nilai juga dianggap sebagai bagian dari kepribadian individu yang dapat mewarnai kepribadian keluarga atau kepribadian bangsa. Dalam konteksnya yang relevan, nilai menjadi dasar pembentukan sikap manusia terhadap suatu isu atau permasalahan sehingga dengan nilai cenderung menghindari konflik.
2. Nilai Kebudayaan dan Manusia
Jiwa pada individu manusia adalah roh subyektif yang menciptakan dan mendukung nilai-nilai. Nilai-nilai roh subyektif manusia kemudian diterima oleh umum (masyarakat luas) membentuk sistem nilai-nilai umum yang kemudian disebut nilai-nilai kebudayaan. Sistem nilai ini berfungsi sebagai pedoman dan norma hidup manusia baik sebagai individu atau kelompok misalnya dalam keluarga, organisasi, partai politik, masyarakat atau bangsa. Kebudayaan itu sendiri diartikan sebagai seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan, nilai-nilai Karakter yang Membangun Peradaban Manusia bermasyarakat, yang jadikan pribadinya dengan terus belajar.
Para teoritis memandang kebudayaan adalah sistem nilai-nilai atau kumpulan nilai-nilai yang disusun dan diatur menurut struktur tertentu. Dalam hal ini dapat digolongkan menjadi enam bidang nilai kebudayaan (lebensformen), antara lain :
(1) bidang pengetahuan-ilmu dan teori
(2) bidang ekonomi
(3) bidang kesenian
(4) bidang keagamaan
(5) bidang kemasyarakatan
(6) bidang politik.
Empat bidang diatas diantaranya termasuk pada bidang nilai yang berhubungan dengan manusia sebagai individu, sedangkan dua bidang terakhir merupakan bidang nilai yang berhubungan dengan manusia sebagai anggota masyarakat. Dari ke-enam nilai kebudayaan di atas, realitasnya sering hanya salah satu saja yang dominan, dan nilai yang dominan inilah yang memberi corak atau bentuk kepribadian. Nilai kebudayaan yang dominan ini dipandang sebagai nilai yang tertinggi, yang paling berharga sehingga nilai-nilai lain diwarnai oleh nilai-nilai yang dominan yang melahirkan beberapa tipe watak manusia antara lain;
(1) Watak manusia teori atau ilmu.
(2) Manusia ekonomi
(3) Manusia seni
(4) Manusia agama
(5) Manusia sosial
(6) Manusia kuasa atau politik
3.Manusia dan Peradaban
Peradaban dalam Bahasa Inggris adalah Civilizationdiartikan sebagai :
(1) group of people living and working together for the purpose of creating an organized society,
(2) the highest cultural grouping of people which distinguishes humans from other species,
(3) complex systems or network of cities that emerge from pre-urban culture.
Antara manusia dan peradaban sangat erat hubungannya karena keduanya saling mendukung dalam menciptakan suatu kehidupan sesuai kodratnya. Peradaban timbul karena manusia yang menciptakannya. Masyarakat yang beradab diartikan sebagai masyarakat yang mempunyai sopan santun dan budi pekerti yang baik. Makna hakiki manusia beradab digambarkan dengan ketenangan, kenyamanan, ketentraman dan kedamaian, dengan kata lain kombinasi yang ideal antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum. Adab erat hubungannya dengan:
(1) Moral yaitu nilai-nilai dalam masyarakat yang hubungannya dengan kesusilaan,
(2)Norma yaitu aturan, ukuran atau pedoman yang dipergunakan dalam menentukan sesuatu yang baik atau salah.
(3) Etika yaitu nilai-nilai dan norma moral tentang apa yang baik dan buruk yang menjadi pegangan dalam mengatur tingkah laku manusia.
(4) Estetika yaitu berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam keindahan, kesatuan, keselarasan dan kebalikan.
Peradaban merupakan perkembangan kebudayaan yang telah mencapai tingkat tertentu yang diperoleh manusia dan pendukungnya yang mencakup seluruh kehidupan sosial, ekonomi, politik dan teknik. Sedangkan kebudayaan adalah sesuatu yang berasal dari hasrat dan gairah yang lebih murni diatas tujuan yang praktis hubungannya dengan masyarakat. Jadi Peradaban merupakan tahapan tertentu dari kebudayaan masyarakat yang telah mencapai nilai -nilai positif dalam kehidupan sehari-hari yang telah maju sebagaimana dicirikan dalam tingkat ilmu pngetahuan, teknologi dan seni yang modern. Masyarakat tersebut dapat dikatakan telah mengalami proses perubahan sosial signifikan sehingga taraf kehidupannya makin kompleks. Manusia sebagai makhluk beradab dan masyarakat adab tentunya mempunyai tanggungjawab dalam melangsungkan hidupnya. Manusia yang bertanggungjawab adalah manusia yang bertindak baik menurut norma umum. Makna hakiki manusia beradab adalah manusia senantiasa menjunjung tinggi aturan-aturan, norma-norma, adat-istiadat, ugeran dan wejangan atau nilai-nilai kehidupan yang ada di masyarakat yang diwujudkan ketaatan pada berbagai pranata sosial atau aturan sosial, sehingga tercipta kehidupan di masyarakat yang tenang, nyaman, tentram dan damai. Konsep masyarakat adab adalah kombinasi yang ideal antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum. Hal ini sesuai dengan aspek rohani dan jasmani yang ada pada manusia. Sehingga kehidupan manusia selalu dibimbing oleh nilai-nilai spiritualisme dan materialisme. Maka sepatutnya menserasikan kedua pasangan nilai. Namun kenyataan manusia dalam memandang kedudukan dan peranan seseorang di masyarakat lebih banyak mempergunakan tolak ukur materi. Hal ini disebabkan karena tabiat manusia akan selalu mencari peluang kebebasan.
Nilai-nilai Karakter yang Membangun Peradaban Manusia. Menurut Selo Sumardjan, perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan didalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosial, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap, dan pola perilaku dalam kehidupan kelompok atau masyarakat. Menurutnya antara perubahan sosial dan perubahan kebudayaan memiliki satu aspek yang sama, yaitu keduanya bersangkut paut dengan suatu penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan cara masyarakat memenuhi kebutuhannya. Pada kelanjutannya mengenai pasangan nilai tersebut mengalami pergeseran tekanan pada nilai-nilai tertentu. Pergeseran nilai tersebut adalah nilai-nilai materialisme yang dapat menimbulkan perubahan nilai yang berpengaruh terhadap masa depan. Perubahan nilai tersebut merambah pada perubahan sosial.
4. Peradaban dan Problematikanya bagi Kehidupan Manusia
Arus modernisasi dan globalisasi adalah sesuatu yang pasti terjadi dan sulit untuk dikendalikan, terutama karena begitu cepatnya informasi yang masuk. Hal yang mendasar dari modernisasi dan globalisasi adalah masalah nilai. Nilai yang mengglobal dianut sebagai nilai yang diyakininya benar. Jika nilai-nilai yang dianut berbenturan dan berkembang dalam masyarakat tanpa penyelesaian, maka diidentifikasikan timbul krisis nilai yang mengganggu keharmonisan kehidupan masyarakat. Hal ini dikarenakan sendi-sendi normatif dan tradisional mengalami pergeseran. Krisis nilai ini menyangkut sikap menilai suatu perbuatan baik-buruk, bermoral-amoral, sosial-asosial, pantas-tidak pantas, benar–tidak benar dan prilaku lainnya yang diukur atas dasar etika pribadi dan sosial. Sehingga merubah sikap-sikap penilaian mentolerir, permisif, apatis, tidak sopan dan sebagainya. Kondisi kebudayaan sosial tersebut pada gilirannya mengguncang jiwa manusia, terjadinya krisis kepercayaan pada kemampuan diri sendiri dan menimbulkan gejala-gejala sensitif terhadap nilai-nilai yang negatif. Disamping itu sumber nafsu-nafsu manusia muncul kepermukaan, sehingga penalaran tidak lagi filosofis dan bijaksana bahkan banyak yang tidak sejalan dengan hati nurani manusia. Krisis nilai peradaban diatas menurut Arifin berpangkal pada perubahan pola pikir yang cenderung rasional daripada dogmatisme, realisme dan pragmatisme dari pada ritual-formalisme, sekuarisme dari pada moralisme-idealisme agama dan sebagainya. Pertarungan antara kebudayaann lokal dengan kebudayaan barat, dimana kebudayan barat berdasarkan pada rasionalisme dan kebudayaan lokal khususnya lebih kepada nilai-nilai filosofis bangsa.
5. Nilai-nilai yang membangun Peradaban.
Kata “adab” (asal kata dari bahasa Arab) diartikan sebagai akhlak atau kesopanan dan kehalusan budi pekerti. Peradaban adalah tahapan tertentu dari kebudayaan masyarakat tertentu pula, yang telah mencapai kebudayaan tertentu pula, yang telah mencapai kemajuan tertentu yang dicirikan oleh tingkat ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang telah maju. Untuk menjadi makhluk yang beradab, manusia senantiasa harus menjunjung tinggi aturan-aturan, norma-norma, adat-istiadat, ugeran dan atau nilai-nilai kehidupan yang
ada di masyarakat yang diwujudkan dalam ketaatan pada berbagai pranata sosial atau aturan sosial, sehingga dalam kehidupan di masyarakat itu akan tercipta ketenangan, kenyamanan, ketentraman dan kedamaian. Peradaban sebagai wujud kebudayaan yang bersifat nonmateriil, seperti adat sopan santun,
pergaulan dalam menjalani hidup dan kehidupan ini manusia senantiasa memegang teguh nilai-nilai yang ada, baik berupa moral, norma, etika, dan estetika. Dengan demikian, adab dan peradaban di masyarakat memiliki peran yang sangat sentral dalam kehidupan masyarakat dan sangat berpengaruh
dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu wujud peradaban yang beradab adalah mempunyai:
(1). Nilai-nilai dalam masyarakat dalam
hubungannya dengan kesusilaan,
(2).Norma : aturan, ukuran, atau pedoman yang dipergunakan dalam menentukan sesuatu benar atau salah, baik atau buruk, (3). Etika : nilai-nilai dan norma moral tentang apa yang baik dan buruk yang menjadi pegangan dalam megatur tingkah laku manusia. Bisa juga diartikan sebagai etiket, sopan santun,
(4). Estetika : berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam keindahan, mencakup kesatuan (unity), keselarasan (balance), dan kebalikan (contrast).
Brubacher yang dikutip Muhaimin mengatakan bahwa nilai sangat erat dengan pengertian-pengertian dan aktivitas manusia yang kompleks, sehingga sulit ditentukan batasannya. Nilai adalah suatu penetapan atau suatu kualitas objek yang menyangkut suatu jenis apresiasi. Nilai itu praktis dan efektif dalam jiwa dan tindakan manusia yang melembaga secara objektif di masyarakat dan merupakan satu realitas yang sah sebagai suatu cita-cita yang benar dan bersifat hayati, ideal, abstrak dan tidak dapat disentuh oleh panca indra. Nilai-nilai Karakter yang Membangun Peradaban Manusia bersifat subjektif dan tidak mungkin diuji, ukurannya terletak pada diri orang yang menilai, namun konfigurasinya dapat berwujud kebenaran berdasarkan nilai logika atau kegunaan secara pragmatis. Sumber nilai yang berlaku dalam pranata kehidupan manusia menurut Muhaimin digolongkan ke dalam dua macam, antara lain:
(1). Nilai ilahi yang terbentuk dari taqwa, iman, adil yang diabadikan dalam wahyu Ilahi, nilai ini selamanya tidak mengalami perubahan,
(2) Nilai insani yang tumbuh atas kesepakatan manusia serta hidup dan berkembang dari peradaban manusia, sifatnya dinamis, keberakuan dan kebenarannya relative (nisbi) yang dibatasi oleh ruang dan waktu, fungsi interpretasinya lebih memperoleh konsep nilai atau lebih memperkaya isi konsep atau untuk memodifikassikan bahkan mengganti dengan konsep baru. Nilai-nilai insani yang melembaga pada suatu tradisi yang diwariskan dan mengikat anggota masyarakat memiliki kecenderungan mempertahankan dari kemungkinan perubahan tata nilai sehingga sering menjadi hambatan perkembangan peradaban dan kemajuan manusia. Hal ini memungkinkan adanya kontradiksi antara kepercayaan sebagai sumber tata nilai yang membangun peradaban dengan nilai-nilai tradisi yang baku dan mengikat sehingga merugikan peradaban.
Fenomena di atas pada perkembangannya, peradaban mengarah pada sikap meninggalkan bentuk kepercayaan dan tata nilai tradisional dan menganut kepercayaan dan nilai-nilai yang dianggap suatu kebenaran. Sikap religious khususnya Nasrani dalam menghadapi tata nilai masyarakat dapat menggunakan lima klasifikasi antara lain:
(1). Memelihara unsur-unsur nilai dan
norma yang sudah mapan dan positif,
(2). Menghilangkan unsur-unsur nilai
dan norma yang negatif,
(3). Menumbuhkan unsur-unsur nilai dan norma baru yang belum ada dandianggap positif,
(4). Bersikap receptive,selective, digestivse, assimilative, dan transmissive, (5). Menyelenggarakan penyucian nilai
dan norma yang sejalan dengan
nilai-nilai dan norma-norma nasrani
(Kekristenan nilai dan norma). Bentuk-bentuk nilai berdasarkan bidang yang dinilai misalnya nilai hukum, nilai estetika, nilai etika dan sebagainya, menurut para ahli dikelompokkan menjadi dua bagian, antara lain:
(1). Nilai formal yaitu nilai yang tidak ada wujudnya melainkan berbentuk lambang atau simbol-simbol yang bisa karena terbentuk dari nilai sendiri misalnya Pa Dosen bagi seseorang yang memangku pekerjaan sebagai dosen, ada pula terbentuk karena turunan misalnya ibu Rektor karena istrinya pa Rektor.
(2). Nilai material yaitu nilai yang berwujud dalam kenyataan pengalaman bisa karena pengalaman rohani bisa juga karena pengalaman jasmani sehingga dapat dirasakan secra lahirvdan batin, pancaindra maupun rasio, misalnya nilai hidup (bebas, menindas, berjuang), nilai nikmat (puas, nyaman, aman), nilai guna (butuh, menunjang, peranan), nilai logika (cerita, membuktikan, paham), nilai estetika (music, berpakaian, anggun), nilai etika (ramah, serakah, sedekah), nilai
religi (sangsi, menyangkal, syirik).
6. Nilai-nilai Kekristenan yang membangun Peradaban
Awal mula yang menggolongkan nilai-nilai akhlak dalam kekristenan yang membangun peradaban dalam kalangan umat Nasrani adalah Yesus Kristus. Dilanjutkan kemudian oleh para Pendeta mengklasifikasikan niali-nilai akhlak berdasarkan Alkitab ada beberapa jenis antara lain:
(1). Nilai-nilai akhlak perseorangan meliputi :
Kesucian jiwa, menjaga diri, menguasai nafsu, menjaga nafsu makan dan seks, menahan rasa marah marah, bersikap benar, lemah lembut dan rendah hati, berhati-hati mengambil keputusan, menjauhi buruk sangka, tetap dan sabar, teladan yang baik, sederhana,beramal saleh, berlomba-lomba dalam kebaikan, pintar mendengar dan mengikuti, berhati ikhlas. Nilai-nilai akhlak yang terlarang diantaranya adalah: bunuh diri, berbohong, nifaq, munafiq, bakhil, mubazir, meniru, sombong.
(2). Nilai-nilai akhlak dalam keluarga meliputi :
Kewajiban terhadap orang tua dan anak, kewajiban suami-istri, kehidupan rumah tangga, etika perceraian, kewajiban terhadap karib kerabat, dan prinsip-prinsip warisan.
(3). Nilai-nilai akhlak sosial meliputi :
A. Yang dilarang seperti membunuh manusia, mencuri, menipu, menghutangi dengan bunga, penipuan, hak milik tidak halal, memakan harta anak yatim, mengkhianati amanah, kerjasama untuk kejahatan, membela pengkhianatan, menipu dan mengkhianati, menipu dan merusak hakim, saksi palsu, menyembunyikan kebenaran, berkata buruk, memperlakukan anak yatim dan fakir dengan buruk, menganggap rendah orang lain, memata-matai orang lain, bermaksud jahat dan cepat membenarkan, turut campur yang berbahaya, tidak peduli terhadap hal yang awam.
B. Yang diperintahkan seperti memenuhi amanah, mengatur perjanjian untuk menyelesaikan sesuatu yang meragukan,
menepati janji, memberi kesaksian benar, mengislahkan, memaafkan, saling mengasihi, berbuat ikhsan kepada yang fakir, mengembangkan harta anak-anak yatim, memerdekaan hamba-hamba dan pembebasannya, tidak mengabaikan kejahatan orang jahat, membalas kejahatan dengan kebaikan, mengajak
kepada kebaikan dan melarang kejahatan, menyebarkan ilmu pengetahuan, persaudaraan dan sifat pemurah, kecintaan terhadap sesama manusia, keadilan, kasih sayang dan ihksan, mencela kebatilan.
C. Tata tertib kesopanan seperti izin sebelum masuk rumah, merendahkan suara dan tidak memanggil orang dewasa dari luar, memberi salam ketika masuk, membalas salam lebih baik, duduk dengan baik, judul pembicaraan harus baik, menggunakan kata-kata manis, meminta izin ketika hendak pulang.
(4). Nilai-nilai akhlak dalam negara meliputi:
A. Hubungan antara kepala negara dan rakyat seperti bermusyawarah, menandatangani keputusan, memakai prinsip keadilan, menjaga ketentraman, menjaga harta benda awam, memberi hak-hak golongan minoritas. Kewajiban rakyat seperti disiplin, taat yang bersyarat, bersatu pada cita-cita yang tertinggi, bermusyawarah pada persoalan awam,
menjauhi kerusakan, menyiapkan diri bagi pembelaan negara, menjaga mutu moral, tidak membantu musuh,dll.
B. Hubungan dengan luar negeri seperti memberi perhatian terhadap pedamaian, tidak berselisish pada waktu dan keadaan tertentu.
(5) Nilai-nilai akhlak agama
Meliputi :
Semua yang bersangkut kewajiban hamba
terhadap Allah Bapa seperti beriman, taat, beribadah/membaca Firman-Nya, mengasihi sesama, mensyukuri nikmat, menjadikan Yesus sebagai sumber pengharapan dan mengakui-Nya sebagai Juru Selamat yang menebus dosa manusia, dll.
C. PENUTUP
Nilai-nilai terbangun dari insan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki berbagai potensi, pada gilirannya tidak lepas dari nilai-nilai yang lebih tinggi dan lebih universal yaitu nilai-nilai ilahi. Penghayatan sebuah nilai-nilai dalam membentuk suatu karakter membutuhkan proses belajar dan ketundukan pada hukum proses belajar dimana pada nilai-nilai tertentu menjadi perangsang bagi nilai-nilai lain untuk manusia implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang berlaku pada nilai-nilai yang dianut manusia akan menjadi budaya dan mempengaruhi pada perkembangan peradaban manusia sebagai pencipta peradaban itu sendiri. Maka kitalah sebagai mausia yang patut mengamalkan nilai-nilai tersebut dan kita pula yang menjadi sumber kepatuhan nilai-nilai. Oleh karena itu nilai-nilai yang dibangun harus merupakan perwujudan dari manusia yang berbudaya dan berperadaban.