Pengikut

Sabtu, 29 September 2018

CERITA RAKYAT : PUTERI BULAN DI NIMBORAN

Dipublikasikan

Oleh :

Piethein Andris Wakum,SIP.,MM

Di Keitemung, Nimboran pada zaman yang tak diketahui, hiduplah seorang peladang yang membuat ladangnya jauh di sebelah timur kampung itu, di tepi Danau Sentani. Ladangnya sangat besar dan dilindungi dengan bentangan kayu yang besar-besar, tinggi dan kokoh sehingga tidak memberikan celah pada setiap orang dan binatang besar masuk ke dalamnya untuk mencuri.

Setiap pagi hari, peladang ini mengunjungi ladangnya dengan perasaan heran yang semakin hari semakin bertambah karena ia menemukan bekas kaki babi yang sangat banyak di dalam ladangnya diantara tanaman namun ia tidak menemukan dari mana babi-babi yang masuk ke ladangnya berdatangan karena seluruh pagar masih tetap berdiri dengan teguh tanpa celah yang memberikan peluang untuk binatang jenis babi masuk keluar ladang dengan bebas.

Dorongan hasrat untuk mengetahui dari mana babi-babi hutan masuk pagar ladangnya semakin menguatkan niat peladang itu untuk bersembunyi dan mengintip.

Pada suatu malam, ia berjaga dengan bersembunyi di dalam hutan di sisi luar pagar ladangnya. Tepat tengah malam ia sangat terperanjat ketika melihat sesosok puteri keluar dari dalam air Danau Sentani dan berjalan langsung menuju ladangnya. Tangan puteri bulan memegang beberapa taring dan kuku kaki babi hutan yang akan digunakannya untuk meninggalkan bekas di ladang setelah mencuri tanaman. Wajah puteri bulan bersinar lembut menerangi seluruh ladang dan hutan-hutan di sekitarnya yang memantulkan keindahan Danau Sentani di malam hari.

Pegunungan Cycloop menjadi semakin indah kebiruan diselimuti awan pada puncaknya yang tertinggi ketika sinar puteri bulan dipantulkan kembali ke mata peladang Keitemung. Sangat mengagumkan tetapi mengapa puteri bulan mencuri di dalam ladang?

Ketika puteri bulan memanjat pagar ladang, peladang itu menangkap tangannya dan menjatuhkannya ke bawah di luar ladang dan memasukkannya ke dalam kantong jaring tali yang besar, puteri bulan dijerat ke dalam kantong itu namun terang wajahnya masih tetap menyinari seluruh sisi luar kebunnya kemudian ia membawa pulang ke rumahnya dan disimpan dalam koper kayu pada setiap siang hari.

Bila malam hari tiba, peladang membawa puteri bulan ke ladang atau ke tempat lain untuk mencari binatang buruan di hutan. Sejak ia memperoleh puteri bulan, setiap malam ia pergi berburu babi hutan di jebakan Pohon Sagu, ia bersembunyi dan menyembunyikan puteri bulan dalam kantongnya dan kantong itu disembunyikan dibalik Pohon-pohon Sagu.

Ketika ia mendengar suara dan bunyi langkah babi hutan mendekat untuk makan sagu, segera ia mengeluarkan puteri bulan dari dalam kantong yang disembunyikannya, mengangkat tinggi dan kegelapan malam di tengah Hutan Sagu berubah menjadi terang benderang yang membuat babi hutan kaget, tak berdaya dan diam di tempat sehingga peladang memanahnya dengan enteng sampai mati. Demikianlah dilakukan setiap malam hari, perburuan yang selalu berhasil tanpa tantangan.

Rahasia kepemilikan atas puteri bulan belum diketahui oleh Penduduk Kampung Keeitemung. Peladang tak menyangka, ada orang kampung yang mulai curiga keberhasilan berburu yang ia lakukan setiap malam.

Suatu malam, ia kembali meninggalkan kampung untuk berburu, tanpa sepengetahuan peladang itu, seseorang membuntutinya dari belakang untuk mengadakan penyelidikan. Orang itu sangat heran ketika mengetahui cara peladang memperoleh seluruh binatang buruannya. Ketika kantong peladang diletakkan kembali di tempat persembunyiannya, ada tangan lain yang mengambil keluar puteri bulan dari dalam kantongnya, terjadi tarik-menarik puteri bulan antara kedua orang ini sehingga puteri bulan terbagi dua bagian. Sang pencuri melemparkan sebagian tubuh puteri bulan ke atas sehingga ia melayang menjauhi keduanya.

Peladang yang sedang geram menyatakan kepada pencuri, “Karena engkau telah mengetahui rahasia saya maka saya juga melemparkan sebagian tubuh puteri bulan ke atas.”

Dua bagian tubuh puteri bulan bersatu di atas Kampung Keitemung dan mulai saat itu, sinar bulan purnama dapat digunakan secara bersama-sama oleh semua orang kampung untuk berburu babi hutan di dusun sagu masing-masing pada malam hari ketika sang rembulan muncul dengan indahnya.

Kata yang mempunyai cerita, kalau si pengintip tidak pernah mengikuti peladang dari belakang maka sampai saat ini bulan terang hanya dikuasai satu orang peladang dan keturunannya dalam garis laki-laki dari Kampung Keitemung di Nimboran.

Sumber :

https://www.facebook.com/774033772987237/posts/788709011519713/

(Sumber/penutur Selfina Hamokwarong/Griapon, 1974)

Cerita Rakyat Waropen – Legenda Manusia jadi Hewan

Dipublikasikan

Oleh :

Piethein Andris Wakum, S.IP.,MM

Alkisah, Pada zaman dahulu di pulau Yapen dan pulau-pulau di sekelilingnya tidak dihuni oleh seorangpun. Dari mana asal dan datangnya penduduk yang ada pada dewasa ini, dikatakan bahwa dulunya mereka bertempat tinggal di gunung Tonater di daerah Waropen. Pada waktu itu mereka hanya memiliki satu bahasa.

Pada suatu hari penduduk gunung Tonater ini berniat untuk membuat sebuah menara yang tingginya dapat mencapai bulan. Adapun maksud pembuatan menara ini adalah supaya mereka boleh naik ke bulan, untuk menemui para bidadari yang berada di bulan. Menara tersebut dibuat dengan bambu dan di beri bertangga. Dari hari ke hari mereka sibuk mengerjakannya agar rencana mereka terwujud.

Pada suatu hari sementara mereka sibuk memasang rangka, tiba-tiba menara itu goyah lalu rubuh bersama orang-orangnya yang menyebabkan kematian dan bahasa persatuan merekapun hilang. Orang-orang yang meninggal kemudian menjelma menjadi hewan. Ada yang menjadi kasuari, ular, babi, burung-burung dan ada pula yang menjadi ikan seperti : ikan paus, hiu dan sebagainya.

Hewan-hewan ini kemudian mengadakan musyawarah dan telah bermufakat untuk meninggalkan gunung Tonater, karena tempat ini membawa aib bagi mereka. Oleh sebab itu mereka akan menyebar dan mendiami pulau Papua. Ada yang mengungsi ke ujung Timur Papua, ada pula yang ke Barat, ke Utara maupun ke Selatan. Selain di tanah besar ada juga yang menyebar ke pulau-pulaul, seperti : Pulau Yapen, Pulau Biak, Pulau-pulau Moor, Raja Ampat dan lain sebagainya.

Keesokan hari sebelum fajar menyingsing, sebuah perahu sudah siap tertambat dimuara kali Demba. Hewan-hewan yang yang hendak ikut semuanya telah siap diperahu. Saat itu mereka mereka merasa bahagia, karena yang dicita-citakan telah tercapai.

Kini tibalah waktunya untuk bertolak, maka perahupun dilepas kemudian meluncur dipermukaan air meninggalkan muara kali Demba, menuju selat Saireri yang tenang dan kebiru-biruan. Keadaan cuaca di selat Saireri pada pagi itu sangat cerah. Perahupun terasa makin lama semakin laju, seperti menggunakan motor tempel layaknya. Sebentar-sebentar terlihat oleh mereka, sebuah titik yang makin lama makin membesar dan berbentuk sebuah hulu perang. Itulah barisan gunung di pulau Yapen yang membentang dari ujung timur ke sebelah Barat. Karena si Kasuari senang lalu ia berdiri untuk meyakinkan penglihatannya, namun ia tidak menyadari keadaan, sehingga kakinya yang runcing telah menembus dasar perahu.

Akibat perahu berlubang air laut masuk dan hampir-hampir saja mereka tenggelam. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan air, ternyata usaha mereka inipun tidak menolong juga. Terpaksa Tikus tanah berusaha menutupi lubang perahu dengan moncongnya yang besar dan lebar. Dengan cara ini mereka tertolong, namun sewaktu-waktu moncongnya kemasukan air terpaksa dikeluarkannya untuk bernapas sebentar.

Demikianlah dilakukannya berulang-ulang sehingga mereka tiba dipantai pulau Yapen. Tempat pendaratan mereka ialah pasir putih Arareni di Randawaya.

Setiba didaratan, mereka menghembuskan napasnya dengan berlapang dada serta berterimakasih kepada sang pencipta, karena telah tiba dengan selamat.

Saat itu juga Kasuari meninggalkan teman-temannya lalu menghilang ke dalam hutan. Ditelitinya keadaan hutan, apakah dapat menjamin ketentraman hidup mereka atau tidak. Sudah beberapa hari ia meninggalkan teman-temannya,tetapi belum muncul juga.

Pada suatu hari Kasuari kembali lagi dengan membawa berita yang sangat menyenangkan bagi kawan-kawannya. Sejak itu mereka berpisah satu sama lain dan menyebar ke seluruh pelosok pulau Yapen dan mendiaminya hingga hari ini.

Selain itu karena mereka berasal dari keturunan hewan, maka bagi keluarga yang bersangkutan pantang memakan daging jenis hewan tersebut. Dalam hal ini misalkan fam Karubaba pantang untuk memakan daging anjing, sedangkan fam Mansai pantang makan daging kasuari.

Akibat keruntuhan menara kebulan, menimbulkan penyebaran penduduk sehingga menyebabkan penggunaan bahasa didaerah Yapen Waropen banyak ragamnya.

Sumber :

https://www.facebook.com/774033772987237/posts/788735481517066/

KURABESI/GURABESI MANBRI (PANGLIMA PERANG) SUKU BYAK

KURABESI/GURABESI MANBRI (PANGLIMA PERANG) SUKU BYAK

Oleh :

Piethein Andris Wakum,S.IP,.MM

Kurabesi adalah seorang Kamasan dan Manbri (dibaca Mambri) yang konon punya pengaruh yang sangat besar di wilayah Papua khususnya Raja Ampat (Korano Fyak) bahkan sampai ke Maluku.

Menurut cerita turun temurun suku Biak khususnya orang Biak Utara (bar barisen) bahwa Kurabesi adalah Manbri Bar-barisen yang Ke-manbrian-nya sudah telihat sejak kecil. Nama Biaknya adalah Sekfamneri (Sekpum), Sekfamneri berarti ”mendapat penolakkan, mereka (dua) di tolak”. Ibunya bernama Insundi yang hamil diluar nikah.

Peristiwa ini terjadi sewaktu seekor ular naga (korben) menyerang kampung Korem, yang menelan begitu banyak korban, belakangan Sekfamneri-lah yang membunuh ular itu. Peristiwa ini menyebabkan banyak orang Biak Utara harus meninggalkan kampung halaman mereka di Korem untuk mencari tempat baru. Banyak orang Biak Utara harus berimigrasi ke tempat lain di pulau Biak, Supiori dan bahkan sampai ke Raja Ampat dan daerah lainnya.

Dalam cerita lisan orang Biak Beser (Betew) Kurabesi berasal dari suku Omka, ibunya bernama Pinthe (Pintake) yang berasal dari pulau Waigeo. Pintake hamil diluar nikah dan karena keluarganya malu, akhirnya saudara-saudara Pintake (6 saudara laki-laki) mengusirnya, Pintake naik disebuah sampan kecil keluar dari teluk Kabui dan bertemu dengan orang-orang Biak yang hendak pulang ke teluk Cenderawasih. Akhirnya Pintake pun ikut bersama mereka dan melajutkan perjalan ke Waropen. Pintake melahirkan anak lelaki yang belakangan dinamai Kurabesi.

Menurut cerita orang Betew, nama “Kurabesi” berasal dari bahasa Biak (kura=kita berdua berangkat/pergi dan besi=ke mereka) yang artinya kita pergi ke mereka. Kurabesi menjadi remaja dan besar di Waropen. Kurabesi menjalin hubungan romantis dengan wanita Waropen dan menghamilinya diluar pernikahan adat yang menyebabkan ibunya Pintake menyuruh Kurabesi untuk pergi ke paman-pamannya atau om-omnya di Waigeo. Bersama dengan orang-orang Biak, rombongan itu menuju Waigeo untuk bertemu dengan keluarga besarnya suku Omka.

Namun, jika kita menelusuri cerita orang Biak Beser dan Orang Biak Utara ada kesamaan cerita meskipun nama tokoh-tokoh itu berbeda. Namun muncul pertanyaan, Kurabesi sebenarnya ada dalam periode waktu mana? Apakah Kurabesi yang disebutkan itu adalah Sekfamneri? Sangat sedikit informasi tentang keberadaan Kurabesi, kebanyakan merupakan cerita lisan. Namun, kita bisa mendeteksinya melalui cerita lisan, sejarah dan silsilah keluarga. Kurabesi adalah tangan kanan Sultan Ciriliati alias Jamaludin yang menjadi Raja ke-4 pada tahun 1495-1512 di Kerajaan Tidore. Dalam catatan Haga, Kurabesi adalah orang kepercayaan Sultan Jamaludin. Dan dalam catatan ”Museum Memorial Kesultanan Tidore Sinyine Mallige” dijelaskan bahwa pada tahun 1453 M sultan Ibnu Mansur bersama Kurabesi memimpin ekspedisi ke dataran tanah besar beserta pulau-pulau melewati Patani Gebe dan Waigeo.

Namun jika dihitung menggunakan silsilah keret suku Biak yang masih memiliki hubungan darah dengan Kurabesi, rupanya perhitungan itu jatuh pada periode tahun 1700-an. Artinya Kurabesi hidup di tahun 1700-an. Ini berarti Kurabesi hidup pada zaman kerajaan sultan Nuku (Jou Barakati Nuku) yang memerintah pada tahun 1797 – 1805. Jika Kurabesi hidup mulai dari tahun 1453-1805 masa-nya sultan Nuku, berarti umur Kurabesi adalah 310 tahun. Sangat tidak mungkin! KEMUNGKINAN ada DUA ORANG yang bernama Kurabesi yang hidup dalam periode waktu yang berbeda. Mungkin yang satu-nya hidup dalam periode 14945-1512 Masehi pada era Sultan Jamaludin dan yang satunya lagi hidup pada era sultan Nuku periode tahun 1797-1805 Masehi. Dalam tradisi suku Biak, memberi nama seorang berkaitan dengan nama leluhur atau generasi kakek-buyut sehingga generasi berikutnya bisa menggunakan nama kakek-buyut mereka. Sehingga ada kemungkinan bahwa dua Manbri hidup di periode seperti telah dijelaskan diatas.

Sumber :

https://www.facebook.com/774033772987237/posts/806131763110771/