Catatan singkat yang sederhana ini dirasa akan sedikit bermanfaat bagi generasi hari ini di atas tanah Papua untuk menata paradigma sosial dimasa yang akan datang. Alasan mendasar dapat terlihat bahwa sebagian anak Papua masa kini sudah tidak lagi menjaga konsistensi sebuah nilai budaya dan menjaga warisan dalam keberagaman hidup dan perspektif dinamika sosial yang sesungguhnya. Hal ini pun bertentangan dengan sebuah nilai yang luhur dan memiliki makna yang sungguh bagi tanah Papua dan bagi masa depan generasi yang akan datang, sehingga perlu kita mengingat kembali pesan dan kesan yang ditinggal oleh para Zendelin diatas tanah Papua, salah satu Zendelin tanah Papua yakni Pdt. Izaac Samuel Kijne dengan dua pesan hidup yang secara khusus dititipkan bagi orang Papua dan kini telah tersirat dalam kehidupan hari ini.
Pendeta Izaac Samuel Kijne adalah hamba Tuhan berkebangsaan Jerman yang ditugaskan di Wondama sajak tahun 1925. Ia dipindahkan dari Pulau Mansinam tempat Injil pertama masuk (1855). Mulai saat itulah Wasior dikenal luas karena ia mendirikan Gereja dan Sekolah Zending. Di gereja dan sekolah itulah anak-anak dan orang dewasa Asli Papua mulai diajarkan tentang Injil dan etika hidup sebagai Orang Kristen yang baik dan benar.
Salah satu karyanya yang paling dikenal hingga saat ini di Wondama adalah Batu Peradaban. Di atas batu itulah bertuliskan isi dari awal Peradaban Bangsa Papua.
“Di atas batu ini, saya meletakkan Peradaban Orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri” (Wasior, 25 Oktober 1925).
Isi Pesan dari Pdt. Izaac Samuel Kijne yang dijuluki sebagai Bapak Peradaban Orang Papua memiliki makna khusus bahwa suatu saat nanti Orang Papua akan berdiri sebagai pemimpin di atas tanah leluhurnya sendiri, meskipun banyak orang dari berbagai daerah akan datang dan terus berdatangan ke Tanah Papua untuk hidup berdampingan dengan orang-orang Papua dan membangun tanah Papua dengan perspektif bahkan konsep yang berbeda.
Konon menurut kepercayaan masyarakat setempat, jika ada orang yang naik ke atas batu dan melihat alam indah di Wondama, maka saat itu pula akan muncul berbagai inspirasi untuk melakukan perubahan baru. Keyakinan mereka tersebut kini sudah nampak dalam keseharian hidup Orang Papua. Keyakinan masyarakat setempat saat itu, mulai menjadi sebuah kenyataan dalam keseharian hidup Orang Papua saat ini namun masih banyak bagian yang harus direnungkan kembali sekaligus dapat dijadikan bahan evaluasi bagi setiap anak Papua.
Kini banyak peristiwa yang sudah dan sedang terjadi sesuai dengan isi dari tulisan yang ada pada batu peradaban tersebut. Terlebih khusus, sangat nampak dalam hal sistem kepemimpinan dalam berbagai aspek pembangunan saat ini di Tanah Papua. Entah itu dalam Bidang Birokrasi Pemerintahan, Pendidikan, Keagamaan, Kesehatan, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Hukum dan HAM dan lain sebagainya.
Hal tersebut sudah mulai nampak dan terbukti sejak jaman sebelum adanya Status Daerah Otonomi Khusus (OTSUS) bagi Provinsi Papua. Berbagai instansi sudah pernah dipimpin oleh Orang Asli Papua sendiri. Baik itu instansi pemerintahan maupun swasta.
Salah satu contoh konkrit adalah sejak Integrasi Irian Barat (Papua) ke dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Tanggal 01 Mei 1963, Alm. Elias Jan Bonai langsung dipilih menjadi Gubernur Irian Barat pertama. Ia adalah salah satu Putra Asli Papua. Masa jabatannya berakhir tepatnya pada tanggal 20 November 1964. Hal ini membuktikan bahwa Orang Papua juga sudah sejak lama bisa memimpin dirinya sendiri. Bagian ini pun menjadi dasar bahwa orang Papua harus lebih giat membangun diri dalam menata masa depan Tanah Papua yang lebih baik. Apalagi sekarang dengan adanya Undang-Undang Otsus (UU-Otsus). Hak-hak Orang Asli Papua terakamodir. Meskipun, faktanya tak semua terlaksana dengan baik dan benar namun hal ini perlu disambut dengan bijaksana sebagaimana pesan Pdt. Izaac Samuel Kijne yang telah diuraikan sebelumnya.
Salah satu contohnya kini semua pimpinan di jajaran birokrasi dimulai dari tingkat distrik hingga gubernur diduduki oleh Orang Asli Papua. Tidak hanya itu, kini banyak juga yang sudah dan sedang menjabat sebagai pimpinan dalam berbagai bidang di luar Papua, bahkan ada juga berkarir di tingkat internasional. Sederetan jabatan yang pernah dan sedang diembangi oleh Anak Asli Papua di luar Papua dan manca negara antara lain seperti Anggota Dewan Perwakilan Daerah dan Rakyat Republik Indonesia (DPD dan DPR. RI), Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR. RI) Menteri hingga Duta Besar Luar Biasa (Ambassador). Hal-hal ini membuktikan bahwa pernyataan tertulis dari Pdt. Kijne kini telah dan sedang menjadi nyata satu demi satu. Namun, kembali kepada setiap pribadi pejabat apakah mereka akan bertahan bahkan menjadi lebih baik ataupun menjadi terpuruk dalam konsep yang berbeda.
Mengingat kemungkinan loyalitas dari kepemimpinan itu, kembali Tokoh Pendidikan Orang Papua itu pernah menitipkan catatan penting buat kehidupan di Tanah Papua. Catatannya tersebut tidak hanya untuk Anak Negeri Papua. Akan tetapi dialamatkan untuk semua orang. Entah itu Papua maupun Non-Papua yang hendak akan berkarya di atas Tanah Papua.
“Barang Siapa yang bekerja di Tanah ini dengan setia, jujur dan dengar-dengaran, maka ia akan berjalan dari tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain.” (Pdt. I.S. Kijne, 1947.)
Dari pesan religius di atas, dapat dipahami bahwa ia memuat tentang sederetan hikmah dan pahala yang akan dialami oleh siapa saja yang akan berkarya di Tanah Papua. Entah itu, ia pendatang maupun Orang Asli Papua yang akan hidup dan berkarya di Tanah Papua. Sehingga, apapun jenis tanda heran yang akan dialami sangat bergantung pada karyanya. Barang siapa yang akan bekerja dengan setia, jujur dan dengar-dengaran, maka ia akan menyaksikan dan mengalami mujizat-mujizat ilahi dari Sang Khalik. Hal tersebut tentu akan dialami oleh mereka diluar dugaan manusia biasa. Sebagaimana sesuai dengan hukum tabur dan tuai. Prinsipnya, apa saja yang ditanam, hal itu pula yang akan dipanen oleh mereka.
Ada berbagai bentuk tanda heran yang bisa dialami oleh siapa saja yang kerja dengan sepenuh hati. Baik itu secara langsung, maupun secara tidak langsung. Contoh nyata tanda heran yang mereka bisa peroleh adalah seperti umur yang panjang, keturunan, promosi jabatan dan lain sebagainya. Sementara mereka yang tidak melaksanakan amal dan karyanya sesuai dengan catatan di atas, maka mereka justru akan menyaksikan dan mengalami tanda-tanda heran yang buruk. Tentunya, teguran ataupun kutukannya bisa dalam berbagai bentuk. Misalnya, umur jadi pendek, tidak memiliki keturunan, mengalami kesulitan dalam kenaikan pangkat ataupun promosi jabatan dan lain sebagainya.
Dengan demikian, sangatlah jelas bahwa setidaknya ada dua pesan dan harapan ilahi dari Pdt. I.S.Kijne bagi kehidupan di Tanah Papua. Pesan pertama lebih bersifat khusus dan memuat tentang keyakinan dan harapan hidup dari Orang Asli Papua (OAP) di atas tanah leluhurnya sendiri. Sedangkan, pesan kedua lebih bersifat universal dan memuat tentang anjuran dan konsekuensi dari gaya hidup dari siapa saja yang akan berkarya di Tanah Papua tanpa terkecuali.
Akhirnya, penulis berharap tulisan sederhana ini dapat mengingatkan kita untuk kembali merenung dasar peradaban hidup orang Papua. Namun, bagi yang kebetulan tidak tahu supaya ia dapat menambah wawasan dan pengetahuan akan hidup dan kehidupan di Tanah Papua. Terlebih khusus dari aspek pembangunan bangsa dan kemajuan hidup bagi Orang Papua (OAP dan Non OAP).
Semoga bermanfaat!
Salam Perubahan!
Selamat memperingati hari Adat Sedunia!
Penulis merupakan Alumni Pada Program Magister Manajemen, Universitas Cenderawasih Angkatan XXIV Tahun 2015.